Jumat, 10 Januari 2014

Suatu hari, badut yang terluka dan istrinya yang dilukainya

Adakalanya yang kamu percaya, tak ada orang lain yang memercayainya. Saat itu, kamu boleh bertahan, atau justru mengutuk dirimu. Seperti Laruma, selalu percaya, Isuri—istrinya sebentar lagi pulang. Menebus surat cinta yang tak pernah terbalas. Seperti Laruma yang percaya bahwa ia tidak mandul, namun tidak bagi istrinya—Isuri.
         Laruma bertemu dengan Isuri di sebuah pesta ulang tahun. Hari itu, belum cukup tiga bulan Laruma menduda.Laruma menjadi badut. Dan memang, di kotanya, badut Laruma yang paling terkenal. Setiap minggu, ada saja panggilan buatnya. Biasa tiga kali seminggu. Bahkan setiap hari. Kadang pula, tak pernah sama sekali, tapi itu sangat jarang. Nyaris tak pernah. Laruma jatuh cinta waktu itu juga. Tidak susah mendapatkan Isuri, Laruma tinggal mengimingi masa depan cerah kepada orangtua Isuri, dan semuanya lancar. Isuri dipaksa menerima lamaran lelaki itu. Namun secerah apa masa depan yang bisa dijanjikan seorang badut? Hanya badut. Entah. Orangtua Isuri percaya pada Laruma. Isuri masih remaja waktu itu. Mereka menikah dengan jarak usia puluhan tahun.
                                                 ***
            Laruma dan Istri yang Melukainya
            Jika Isuri pulang, betapa ia akan terharu melihat segala macam bunga yang dulu dirawatnya, kini gantian aku yang merawat. Padahal dulu aku sangat benci bunga. Sampah, kataku. Semoga bukan itu pula alasan Isuri untuk pergi. Sekarang, ada beberapa pot Zinnia merah dan jingga yang setiap hari kurawat untuk Isuri. Bunga yang berasal dari daerah tropis Amerika Selatan itu, adalah bunga kesayangan Isuri. Setiap pagi, aku menyiramnya. Berbicara banyak hal pada bunga itu. Terkesan bodoh. Gila. Memang. Tapi, begitulah caraku,mengandaikan Isuri ada di dekatku.
            Memang benar, kepergian Isuri bukan sebab aku tak suka bunga. Barangkali ia masih mempermasalahkan pernikahan kami yang sudah sepuluh tahun, namun tak berbuah anak. Tapi kupikir ia pergi sebab penghasilanku sebagai badut tidak lagi mencukupi kebutuhannya.
            “Tapi sampai kapan?”
            “Sabar,” sergahku. “Ini hanya masalah waktu,” imbuhku kemudian.
            “Waktu?”
            Aku mengangguk.
            “Kamu sangat tidak realistis, aku butuh yang pasti,” bentak Isuri. Aku terhenyak.
            “Tapi kita bisa mencobanya lagi, kan?” anjurku. Berharap amarahnya segera reda.
            “Tidak, aku sudah capek. Ini sudah sepuluh tahun, dan kamu belum membuktikannya. Kesabaran mana lagi yang lebih tebal dari yang aku punya?”
            “Atau bagaimana jika kita mengadopsi anak Mbak Imah saja?”
            “Tidak! Aku mau anak dari rahimku dan benihmu. Kamu tidak bisa membahagiakanku. Mandul!”
            “Kamu jangan cari alasan, kamu mau pergi, karena kita miskin?”
            Ia diam.
            “Jawab Isuri!” bentakku.
            “Aku hanya menuntut janjimu sebelum kita menikah.”
            Pitamku memuncak. Kepala berat. Dadaku sesak. Mataku memerah. Ada yang memuncak dan tak bisa kuredam. Kupendam. Dan….
            Prak!
            Tanganku lolos ke wajah Isuri. Aku tidak terima semua alasannya.   Isuri berlari. Tak lagi melempar kata. Tak pula membalik tatap ke arahku. Ia lari. Terisak dengan parau suara yang menelusup tak mampu membuatku iba. Aku benar-benar tidak terima. Aku tidak mandul. Aku lelaki sehat. subur.
                                                     ***
            Barangkali inilah takdir kita. Kita harus berpisah. Kamu bertahan dengan ketidakmandulanmu—yang kamu yakini. Dan aku yakin, bahwa kamu mandul, dan aku ingin punya anak. Dari rahimku sendiri. Aku juga ingin hidup layak. Maaf jika aku pergi, aku ingin menemukan kebahagiaan yang lain. Dan mungkin bukan denganmu.
Beberapa potong kata dalam surat Isuri di subuh buta itu, masih aku ingat. Masih terus menjejak di benak. Memasungku dalam rasa bersalah. Mengapa tega aku menamparnya? Duh! Tapi, semua telah terlanjur terjadi. Semoga Isuri masih ingin kembali.
            Tandas lagi segelas kopi hitam di tadah mejaku. Aku harus berkali-kali ke dapur—mengisinya dengan yang baru. Aku harus membuat kopi seorang diri. Tiga tahun setelah Isuri pergi, aku terpaksa memberhentikan Mbak Imah—pembantuku. Aku tak sanggup lagi menggajinya. Membiarkan pembantu setia itu, pulang merawat suaminya di kampung.
                                                      ***
            Setiap sore, saat anak-anak pulang sekolah, atau selesai tidur siang, akungebadut di gang depan rumah. Kendati usiaku tak lagi muda, janjiku buat masa depan cerah Isuri, harus tetap kunyatakan. Aku harus bekerja. Aku tidak memasang tarif. Di dearahku ini, perekonomian kami hampir sama. Mana ada yang mau menyewaku. Seperti biasa, sebisanya kutarik perhatian anak-anak buat mendekat. Banyak cara. Aku bermain lempar bola. Memainkan kartu. Atau bisa juga aku berlelucon garing. Sesekali kuperagakan sulap yang dulu sangat kumahiri. Betapa perih mengingat dulu, saat jasaku masih dibutuhkan, dan aku sangat tenar. Apalah daya, waktu mengubah semuanya.
            Aku ngebadut tidak lebih dari sejam. Pun itu, telah menguras banyak tenaga dari tubuh ringkihku. Saat kuedarkan topi badutku ke lingkaran penonton, aku selalu berharap banyak yang menjatuhkan uang. Paling tidak, cukup buat makanku sehari. Aku malu terus menerus berhutang di kios samping rumah.
                                                  ***
            Isuri dan Suami yang Melukainya
Laruma, maafkan, aku harus pergi. Sekali lagi aku ingin punya anak dari rahimku. Kalau itu bukan dari benihmu barangkali bisa dari benih lelaki lain. Lelaki yang kaunikahi pacarnya dan menghadiahkan bunga Zinnia di pernikahanmu. Lelaki itu, mantan kekasihku. Aku yang kamu jadikan istri ketiga, dengan alasan dua isrtimu sebelumnya telah meninggal. Tapi, justru aku kira, dua istrimu itu, pergi karena kamu tak bisa memberinya anak dan tidak memberinya masa depan cerah seperti yang kamu janjikan kepada setiap yang ingin kamu nikahi. Bukan karena mereka meninggal. Jujur, dengan mantan kekasihku aku telah membuat janji, seminggu sebelum kamu menamparku. Subuh buta setelah tamparanmu itu, ia menjemputku. Dan meninggalkanmu. Maaf Laruma, aku inginkan anak. Ingin kaya.
                                                         ***
            Kuduga, sekarang Laruma tak lagi menunggu. Bisa jadi ia telah berkali-kali menikah, karena telah berkali-kali ditinggalkan. Betapa malang nasib lelaki itu. Aku kurang sabar apa lagi? Aku rela banting tulang demi menutupi upahnya yang tidak cukup untuk kebutuhan kami. Aku tidak masalah dengan pekerjaannya yang hanya badut asal penghasilannya cukup. Soal anak, aku tak bisa lagi bersabar. Aku ingin. Dan sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu dan bersabar. Tapi, Laruma lagi-lagi tak mampu memberiku anak.
            Ia pernah menyarankan untuk mengadopsi anak Mbak Imah. Kebetulan waktu itu Mbak Imah akan menyerahkan anaknya yang kurang lebih berusia dua tahun itu, demi kebahagiaanku dengan Laruma.
            “Aku ikhlas kok, Nya.”
            “Bukan masalah ikhlas atau tidaknya, aku tidak bisa bahagia kalau bukan anak dari rahimku sendiri,” tegasku. Padahal bukan soal mandul itu saja masalahnya. Aku juga ingin kaya.
            Waktu itu, Mbak Imah hanya terdiam. Walaupun harus kuakui, anaknya cukup lucu dan menggemaskan.
            Tiga puluh tahun sudah aku meninggalkan Laruma. Bisa jadi ia telah meninggal di usianya yang kukira hampir menjejak kepala tujuh. Atau bisa pula, sekarang ia tengah meringkuk sepi di panti jompo. Aku tak mau menaruh susah atasnya. Di sini, bersama Suppa—mantan kekasihku—dan kini adalah suamiku. Aku hidup bahagia. Hampir tiga puluh tahun pernikahan kami, dia memberiku tiga orang anak. Dua perempuan dan satu laki-kali. Mobil, rumah, dan pakaian dicukupi. Betapa kami bahagia. Aku sangat bahagia.
            Mbak Imah dan Rahasia Tuannya
“Tuan, aku rela anak ini, Tuan rawat.”
            “Tidak bisa, Imah, istriku tidak mau.”
            Di keluarga Tuan Laruma aku sudah mengabdi berpuluh tahun. Mulai dari istri pertama, hingga istri terakhir yang sangat ia cintai melebih semua istrinya—Isuri. Aku tahu semua peristiwa di kediaman tuanku. Istri pertamanya meninggal—dua tahun setelah pernikahan mereka. Aku kira wanita malang itu bunuh diri. Mulutnya penuh busa ketika pagi buta Tuan Laruma berteriak panik memanggilku. Sedang istri yang kedua, meninggal dengan urat nadi terputus. Tak genap tiga tahun mereka menikah. Ia juga bunuh diri. Hanya istri ketiga—Isuri, yang pergi dengan cara yang berbeda. Bisa jadi ketiga istri itu, meninggalkan tuanku, karena Tuan Laruma mandul. Tapi aku tidak yakin mandul adalah penyebabnya. Atau karena Tuan Laruma hanya badut? Aku masih tidak yakin.
                                                ***

            Soal mandul, aku sangat yakin, Tuan Laruma tidak mandul. Hanya saja barangkali, istri-istrinya yang tidak sabar, menunggu Tuhan mengaruniakan anak untuk mereka. Soal pekerjaannya yang hanya badut, aku juga tak yakin itu alasan istrinya buat pergi. Dua istri pertama Tuan Laruma pergi saat tuanku itu masih kaya. Saat panggilan ngebadutnya masih ramai.  Akulah satu-satunya orang yang percaya pada Tuan Laruma. Aku sangat yakin ia tidak mandul. Tapi apalah arti kepercayaanku ini padanya. Ia memang lelaki yang pantas ditinggalkan. Ia tak bertanggung jawab. Ia lelaki yang pantas merasa sepi. Tapi, lagi-lagi aku percaya ia tidak mandul. Anakku yang ingin ia adopsi, adalah anaknya juga. Anak hubungan gelap kami. Dan aku kira, akulah penyebab ia ditinggalkan istri-istrinya. Bukan mandul. Bukan uang. Bisa jadi, kami—aku dan Laruma, ketahuan oleh istri pertama dan keduanya, juga oleh Isuri. (*)

Rabu, 08 Januari 2014

Mawar di AtasTanah Merah


            Faisal Oddang-Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku terlalu melarutkan diri. Kepergian itu aku yakini bukan sebagai kehilangan. Tepatnya, berusaha aku meyakinkan diriku. Aku tidak kehilanganmu. Hanya perlu mencari cara bagaimana mendapatkanmu. Kepergianmu kala itu ditandai dengan basuh gerimis yang memanjakan pucuk ilalang. Tak sekalipun kamu menoleh. Pun aku sangat enggan mencegat langkahmu. Kita sama-sama teguh dengan prinsip. Titah untuk saling bertahan dengan perpisahan.
            Aku memang jenuh dengan hubungan ini. Untuk menatap matamu saja aku harus mencuri-curi. Kamu tak pernah mengizinkan.
            “Akan terus begitu, hingga kita menika.” Jawabmu ketika aku mepertanyakannya. Mempertanyakan kapan waktu kumiliki kilap indah itu.
             “Lalu bagaimana bisa kau menyebutnya cinta, Naf?” Kamu selalu tersenyum. Mungkin pertanyaan itu sudah terlalu sering kau dengar.
             “Sangat tipis sekat antara cinta dan nafsu.” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi setelah kau menjelaskan cinta dalam matamu.
***
            Kita memang telah sepakat untuk tidak terluka. Tapi sebagaimananpun caraku menafikkannya, nyata memang, hati tak pernah alpa dari kejujuran. Sedikitpun tiada sesal yang kumegahkan dengan keadaan yang menyeretku ke dipan pesakitan ini. Barangkali kamu lebih tenang menjalani segala bentuk kesibukan barumu. Tanpa harus meresah karena membayangkan betapa terlukanya hati yang kau tikam dengan kepergian yang tiba-tiba.
            “Maaf! Aku pun tak ingin melakukan ini. Tapi, prinsip kita berbeda.” Kamu tak sadar telah meremukkanku kala itu. Aku berusaha tegar. Kau benar-benar pergi.
            “Ini hanya untuk meramaikan saja, Naf. Hanya untuk menghargai.” Aku masih terus berusaha meyakinkanmu.
            “Tidak seperti ini cara menghargai. Aku tidak suka dengan perayaaan seperti ini. Apalagi bukan budaya dan adab kita.” Nada suaramu mulai meninggi. Mawar merah dan sebuah boneka dolphin kamu empaskan ke lantai. Namun lebih keras lagi kau empaskan ketulusanku. Baju kurung serta jilbab longgarmu semakin  tegas sebagai identitas penentangan  yang kuat terhadap akulturasi budaya di negeri ini. Kamu lantang menolak adanya perayaan valentine’s day dalam hidupmu. Ini adalah kali ketiga kamu empaskan ketulusanku di tanggal yang sama. Di tanggal 14 Februari. Dan sudah kuputuskan pula ini adalah yang terakhir kalinya kamu melakukan itu. Aku akan membiarkanmu pergi dengan prinsipmu. Dan pergi dengan prinsipku.
            Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku tidak ingin menjilat ludahku. Toh, bukan aku yang memutuskan ini. Memang rasa sakit ada padaku. Namun seharusnya kau yang merasakan penyesalan. Kelak atau tidak sama sekali. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu. Aku  terlalu sibuk untuk belajar mencintai lagi.
***
            Cerita cintaku bermula di sini, sebab kisah denganmu tak pernah lagi kusebut dalam hidupku. Ketika kutemukan seorang yang ternyata mampu membunuhmu dalam anganku. Aku tidak akan pernah memperkenalkan ia padamu. Tak ada sedikitpun hakmu untuk menahu perihal hidupku. Sebut saja ia langit, hujan, pelangi, atau apa saja sesuka kamu. Yang jelas aku telah mencintai sosok baru. Ia jauh beda denganmu. Tidak ada baju kurung. Tidak ada jilbab sebadan. Matanya biru. Senyum behelnya menawan mataku. Dia terlalu sempurna untuk kusandingkan denganmu. Bahkan dia yang selalu membawakan seikat kembang ketika malam valentine. Dia sama sepertiku, dan sangat beda denganmu dalam hal valentine. Yah, valetine. Sesuatu yang kau sebut tabu. Ah, aku sudah teramat jauh menceritakan kekasihku itu padamu.
            Setahun kemudian kami menikah. Kami: aku dan wanita yang mungkin telah kamu namai malam. Sebab sempat kuingat kau selalu menyandingkan malam dengan sesuatu yang tak bisa kau ketahui. Hitam, begitu kamu menyimpulkan. Pernikahan ini berakar ketika aku dan wanita itu menghabiskan waktu di tempat yang penuh asap rokok. Aroma alkohol tersebar di seluruh ruangan. Dan musik mendentum sangat kerasnya. Begitu yang sempat kuingat di malam yang indah itu. Wanita itu hamil. Aku harus menikahinya. Aku memang menginginkan itu. Aku ingin memilikinya utuh.
            Kamu tak usah menanya apakah aku masih menyimpan album pernikahan kami. Aku tak sudi memperlihatkanmu, Naf. Mungkin kamu akan memburamkan warnanya dengan derai penyesalanmu, tafsirku. Dan  mungkin kau tambah terluka setelah mengetahui kami dianugerahi seorang gadis mungil. Dia lebih cantik dari ibunya. Sungguh dia sempurna.
***
            Ada sesuatu yang sangat kurahasiakan padamu. Ini tentang pernikahan kami yang harus berakhir. Istriku tidak selingkuh. Juga tidak menuntut cerai. Dia meniggal setelah menjadikan rumah sakit persinggahan terlama dalam hari-harinya. Tepatnya hari-hari setelah pernikahan kami. Aku benar-benar kehilangan. Tapi jangan harap aku menginginkanmu kembali. Tidak! Aku sudah memilki sesuatu yang lebih menyita cintaku, putriku.
            Sampai sekarang aku masih menyukai dan memegahkan tanggal 14 Februari. Aku pernah membelikan puteriku sebuah boneka. Boneka dolphin berwarna biru muda, seperti yang pernah kamu empaskan di lantai rumahnmu. Dan aku tercekat ketika ia  melakukan hal yang sama denganmu kala itu. Aku langsung saja menafsir kalau kamu telah menyugestikan penyesalanmu yang  beraroma dendam kepada puteriku. Tapi, mana mungkin. Kalian tidak pernah bertemu sama sekali.
***
            Sekarang tanggal 14 Februari. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dari kejauhan kulihat kau menghampiriku. Masih sama seperti perpisahan yang silam. Dengan baju kurung, dan jilbab longgar. Hanya satu yang beda, di tanganmu tergenggam dua buah tangkai mawar berwarna merah. Aku sempat ragu kalau itu kau, Naf. Tapi, senyum santunmu menegaskan. Itu kau, gadis yang pernah hilang di mataku.

            Jalanmu lambat. Perlahan. Aku menyangka kamu akan menghampiriku. Tapi ternyata tidak. Kau menaruh setangakai bunga itu di atas makam isteriku. Lalu? Aku mencoba mengira lagi. Ada harap di dadaku kalau setangkai bunga lainnya untukku. Ternyata benar itu untukku. Aku sebenarnya sedikit menyesal karena belum sempat menitipkan putriku kepadamu. Kamu langsung saja pergi setelah menaruh bunga itu di atas tanah merah yang membekapku. Aku juga lupa mengabarkan: setelah satahun kematian istriku, aku harus pergi dengan cara yang sama. Kami mengidap AIDS, semoga tidak untuk putriku.(*)

Selasa, 31 Desember 2013

Kaleidoskop Iseng

Halo. Saya ingin berbagi beberapa momen di 2013 bersama kalian goodreaders. Dari awal tahun sampai akhir tahun. Saya bukannya menyempatkan diri menuliskan kaleidoskop singkat ini tapi memang saya kurang kerjaan di kamar sendiri, menikmati liburan dimana saya seharusnya tidak boleh sakit. Seharusnya.

MIRC
Sewaktu 2013 masih muda, saya da tiga teman lainnya sepakat membentuk MIRC---sebuah ikatan persahabatan(atau kalau kalian tidak percaya sahabat, kalian boleh menyebutnya pertemanan). Jika kamu pengguna aplikasi chatting MIRC jangan anggap MIRC saya sama dengan yang biasa ada gunakan, punya saya beda dan itu sangat. MIRC punya saya merupakan singkatan nama dari empat anak yang tidak sama, Mukarrama, Indah Puspa Nuralam, Reski Amalia dan Cici Nurfaizah. Kami berempat memang sudah sering bersama terkecuali Reski Amalia. Tapi untunglah, Reski Amalia hanya “sempat” terkecuali karena pada akhirnya kami berempat berusaha saling mengerti.
Dulu, kami berempat menghabiskan waktu bersama-sama. Saling menyemangati, kadang juga saling mengejek. Ke kantin kami barengan, belajar juga barengan, dan ada marah-marahan juga sih, tapi kebanyakan sengaja didramatisasikan. Saya kangen mereka, soalnya kami berempat udah nggak satu sekolah. Kami juga sudah jarang komunikasi, syukur-syukur bisa chat, itupun jarang. Jarang sekali.

UN
20 paket. Barcode. Tidak ada bantuan dari luar tapi bertanggung jawab membantu yang diluar. Errrr. Hahaha. Banyak adegan super tegang dan tentunya ada juga yang bikin ngakak. Kalo adegan tegang ya kalian udah pada tahu kan? Pegang handphone contohnya, diskusi sama teman, dan menghadapi pengawas killer. Nah kalo adegan lucu saya jamin pasti beda. Waktu itu kan ada yang namanya barcode, nah satu teman sekelasku bernama Ainun Wafiyah Ashar tiap hari complain perihal LJK yang kotorlah, barcode yang meragukan, dan banyak lagi alasan lain. Tiap pagi ruangan satu pasti tertawa terguncang-guncang karena disaat hening Nunu selalu muncul memanggil pengawas dengan nada yang menurut saya istimewa, “Pak....”~

Clausep
Setelah ujian, biasalah kita nggak ada kerjaan. Dulu sih saya menghabiskan waktu dengan browsing dan eksis di sosial media, hahaha maklumlah saya pernah alay. Jadi yang unforgettable itu si Clausep. Masa gara-gara saya nulis di komentar facebook kalo SMA 2 Majene memang yang terbaik dari SMA *gasebutmerek*, SMA *tetot* mengamuk nggak jelas. Ampun deh. Dan ohiya, SMA 2 Majene lebih baik dari SMA *tetot* memang fakta kok. Eh tapi satu yang paling memalukan dari cerita perselisihan saya dengan Clausep adalah saya sangat labil, sekali.

Perpisahan
Kamu diberi amplop dan ada dua kemungkinan yang yakin. Seandainya yang kamu dapati dalam amplop adalah kertas biru, selamatlah diri anda! Dan seandainya yang kamu dapati adalah uang biru, artinya limapuluh ribu rupiah anda dikembalikan dan selanjutnya anda sendiri yang artikan. Alhamdulillah, saya dapatnya kertas biru yang bertulisakan “Anda lulus 100%”. What a Surprise! Saya ternyata meraih peringkat kedua. Bahagiaaaaaa J oya tapi sedih juga sih soalnya Kahade akan berpisah, memilih jalan hidupya masing-masing.
Hari itu, mungkin akhir Mei atau mungkin juga awal Juni, ah sudahlah intinya hari itu sangat menyentuh, ya setidaknya untuk kebanyakan orang. Satu hari di bulan mungkin Mei tapi mungkin juga Juni kami merayakan perpisahan dengan air mata, beginilah cara kami yang untungnya tidak mengundang banjir. Awalnya sih saya gengsi untuk menyusul mereka menangis, ya tapi saya menangis juga. Menyedihkan memang, hari itu bisa jadi hari terakhir teman sekelas hadir lengkap. Sewaktu itu, cewe bahkan cowo menangisi. Dari anak pintar (ciee anak pintar) sampai anak yang kurang, dari anak baik-baik sampai anak bermasalah saling menangisi satu sama lain. Seingatku, kahade juga menangis dan kebanyakan mengatakan kalimat imperatif yang bersifat sedikit memaksa sih, hahaha tapi saya tahulah mereka tulus, waktu itu.
“Jangko lupai ka”

Nggak jadi masuk smudama
Ah, saya mau nangis lagi deh. Smudama dan Smadama. Dari awal saya niatnya Smudama, dan suka iseng ngomong Smadama. Apa yang ada dipikiran kalian sekarang? Iseng saya kenyataan? Hahaha. Duh saya bingung mau cerita dari mana, yang jelas saya maunya Smudama bukan Smadama dan entah siapa yang harus disalahkan. Ohiya, saya sempat nangis berminggu-minggu karena nggak masuk sekolah itu loh? Hm percayalah.

Masuk smadama
Tidaaakkk!!!! Hahaha maaf saya lebay. Awal masuk smadama benar-benar penuh perjuangan dan sebagian kahade tahu kok. Demi Tuhan, saya tidak menginginkan sekolah ini tapi akhirnya saya masuk juga -__- berharap bisa melupakan ingin saya yang semula. MOS di smadama nggak seru, super flat, bikin ngantuk, kalo diperhatikan malah panitianya aja yang asyik sendiri. Ohiya, sekolah baru saya ini luas sekali. Ke kantin aja jauh. Teman baru juga didominasi oleh penduduk Tinambung dan sejauh ini mayoritas senior bertindak songong. Tapi ya sudahlah, saya harus mencintai sekolah ini. Seharusnya.

Ramadhan
Flat. Banget.
Seumur hidup Ramadhan 2013 yang paling datar.
Tapi karena flat itulah yang bikin Ramadhan kemarin tidak terlupakan. Semoga Ramadhan 2014 saya masih ada ya. Do’akan!

Osis
Waktu SMP saya pernah berpasrtisipasi dalam OSIS sebagai bendahara. Saya juga heran mengapa termasuk dalam 8 Pengurus Inti, kalo disuruh memilih PI atau PO pada umumnya, ya saya milih PI-lah, hehehe. Yang namanya organisasi kan kita harus kooperatif dan menjunjung rasa kekeluargaan dan waktu itu saya melihat keduanya walaupun kadang juga buram dari penglihatan. Osis kami dulu yang saya lihat berusaha saling melindungi, saling menghargai, dan saling tahu diri. Dulu saya sempat mengira osis kami ialah osis dengan kinerja paling buruk. Ternyata tidak. Masih ada yang lebih buruk, contohnya nggak usah jauh-jauh, ya OSIS Smadama. Yang saya lihat, anggotanya nggak tahu menempatkan diri, nggak tahu tugas mereka, dan nggak tahu tanggung jawab mereka sebagai Pengurus Osis. Semasa SMP dulu, 8 PI nggak terlalu banyak kerjaannya dan memang begitu seharusnya. Selain saya, saya juga banyak mendengar suara-suara kontra terhadap OSIS. Ohiya, waktu itu 911 dan OSIS pernah mengadakan pertemuan dan sebenarnya saya malas mengingatnya lagi sebab pertemuan tersebut pertemuan tak berarah, tidak jelas dan jauh dari ekspektasi saya. Kalo mau tahu, tanyakan ke saya. Saya akan bersedia menjawab.

Sumpah pemuda
Saya bukan pesimis, ini realistis. Saya sempat berpikiran untuk memundurkan diri tapi gagal terus. Yang awalnya saya diikutkan di KNPI berganti lagi jadi Bulan Bahasa. Dan yang bikin saya makin ngeri, tim saya nggak ada, tau nggak?! Tim KNPI terlihat mantap waktu itu, dan tim saya, eh emang saya punya tim? Hahahah. H-1 barulah saya mendapat kepastian bahwa Kak Jaya dan Kak Heru akan bertanding bersama saya, dan saya sama sekali belum tenang. Sampai hari H, kami bertiga hanya bermodalkan “LATIHAN TIGA JAM” dan semuanya mengalir apa adanya. Ohiya, kak Jaya sama Kak Heru ternyata dua manusia yag kocak. Kak Jaya cool, baik, lucu dan sangat santai menjalani semuanya, bahkan pas giliran kami bertiga tampil kak Jaya bikin saya nggak tegang, alias ngakak, hahahha. Sedang kak Heru menurut saya orangnya sangat rahasia dan seandainya saya bisa baca pikiran saya tertarik membaca pikiran manusia pemikir ini, kah heru itu orang dengan optimis dan pede paling parah, biasa ngelawak tapi garing, dan bahasa serta pemikirannya dewa *ygterakhirjgndibaca*.

Wj
Nah yang perihal “WJ” masih hangat nih. Kata Eka atau yang belakangan ini sering dipanggil “Ibu Pos” si Wj melontarkan perkataan yang menyudutkan beberapa pihak, terkhusus Smadama dan Nabilah. Saya juga nggak tahu si Wj ngomong apa tapi si Nabilah sudah berkicau di twitter maupun facebook. Dan nggak main-main, di satu foto si Wj ditag dan memanaslah mereka, eh kami maksudnya, ditambah lagi dengan Kak Heru yang namanya juga keseret, hahaha masih ingat kak heru kan?? Ohiya, karena ini sepele saya jadi nggak jelas memihak siapa, sebenarnya saya begini karena tidak tahu pasti perkataan Wj dan yang paling penting saya mau kontrol sifat annoying saya itu---passupal, sindir menyindir dan lain-lain. Tapi untuk kasus Wj sepertinya saya tidak berhasil.

Banyak yang tidak tuntas
Nah, semester pertama ini saya tidak bersemangat dan saya nggak tahu alasannya. Alhasil banyak nilai saya yang nggak rampung. Sudahlah, saya sadar, pasrah dan ikhlas.

Kahade
Di SMP Neg. 3 Majene, kelas IX Inklusi yang konon dihuni anak-anak pintar ini terkenal dengan sebutan “Ki Hajar Dewantara” yang karena terlalu ribet disingkatlah menjadi KHD dan dengan tujuan perfeksionis, sejak saat itu sampai sekarang KHD ditulis Kahade. Begitulah asal muasal nama kami. Kami berada di lantai dua, hanya kami. Anak-anak kece maupun no kece, yang ngeselin, baik, cerewet, pendiam, passupal, pengganggu, malas, rajin, kreatif, lucu, garing, korban film, titisan penyair, feminim, tomboy, pintar sampai yang rada-rada ada di kahade. Random!
Dulu, kalau lagi ada ulangan dan kamu misalnya nggak terlalu siap, don’t worry. Setiap mata pelajaran ada orangnya, setiap orang selalu ada bagiannya. Hahaha, ngerti nggak? Maksudnya yang ahli matematika udah tersebar, begitu juga pelajaran lain. Menurutku sih, kami terbilang kompak untuk banyak hal, dan juga santai untuk banyak hal. Karena kebiasaan santai berkepanjangan itulah kadang atau memang selalunya begitu, kami tergesa0gesa di hari H. Muncullah istilah “The Power Of Kepepet”.
Ohiya, anak kahade tuh nggak banyak menegnali orang tapi kebanyakan satu sekolah tahu yang mana member kahade. Dan yang masih bikin saya bingung, apa alasan logis murid kelas lain tiba-tiba menghentikan aktivitasnya ketika kami lewat. Duh kangen banget. Baru-baru ini, saya buka facebook dan saya melihat beberapa status yang diposting teman sekelas saya dulu di kahade dan kamu tahu, saya kangen mereka.

Klarifikasi
Untuk MIRC, saya sayang kalian dan terimakasih sudah mau mengerti saya.
Untuk Reski Amaliah, kata mereka kamu takut saya ya? ah saya malu. Awalnya mungkin kamu atau siapapun berpikir saya tidak suka kamu, jika kamu berpikir demikian maka kamu harus menunggu waktu yang sangat lama untuk aku benarkan. Tidak, aku tidak membencimu dan tidak juga suka kamu. Seperti itu, hingga akhirnya aku pernah memantaskan kamu dicueki. Tapi puspa dan cici memberi pengertian dan aku rasa aku mengerti. Kamu mengerti?
Untuk Clausep, saya mengaku salah dan saya cuma mau minta maaf lagi. Saya labil, kita sama-sama labil, mungkin setidakanya waktu itu. Jika kamu masih mempermasalahkan yang dulu, dengan senang hati lagi aku menyarankanmu untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, jangan pada Reni, kecuali dia sudah berhenti. Berhenti apa? Kalau itu boleh kau tanyakan langsung padanya.
Untuk Kahade, saya tidak merasakan sesuatu yang berarti ketika kita masih bersama. Sekarang, saya merindukan kalian. Kalian sadar tidak kita perpaduan yang kompleks. Lalu, kapan kita kembali bertemu memastikan kita memenuhi perintah untuk tidak saling melupa?
Untuk Wj alias Wahyudi Jasman temanku, kamu kesepian ya? bukan begitu cara mengisi waktu kesepian. Lain kali jangan ya, kamu kenal mereka bukan? Mereka ada kesamaan denganmu. Eh saya kangen kamu, titip salam sama teman kita ya.
Untuk Smadama, maafkan aku ya jika kau pernah disedihkan kata-kataku. Kita belum saling mengenal, jika kau tahu maksudku mungkin kita bisa berteman. Ohiya, Aku masih mencari tahu hikmah apa yang kau rahasiakan, kapan rahasia itu menjadi rahasiaku?
Untuk OSIS, saya minta maaf ya, saya berjanji 2014 tidak akan melakukan perbuatan yang seolah-olah menyudutkan kalian. Saya berhenti bukan karena memang kalian sudah di sudut tapi karena tidak mau memperkeruh suasana. Pasti berat untuk kalian, ketika warga sekolah kebanyakan tidak menyukai kalian. Pemimpin kalian bagus-bagus, semangat ya! pernah mendengar rumor tentang ketua osis kita, menurutku ya sebaiknya kalian merapat dan saling melindungi. Ohiya, seharusnya 2014 ini kalian lebih banyak berinovasi dan berkreasi, selama ini kalian terlihat biasa saja dan mengenai yang tidak menyukai kalian, mungkin kalian harus nekat membuat mereka suka sama kalian dengan cara cerdas tentunya.
Untuk Kak Jaya dan Kak Heru, maaf dan terimaksih ya. Maaf kalau waktu itu saya partner yang menyusahkan. Terimakasih kak jaya sudah membuat saya setidaknya bisa tenang, sumpah lucu sekali ki kak. Dan kak heru, terimakasih sudah sempat mengajari saya banyak dan maaf kalau misalnya kak heru tidak suka jawaban tidak tahu, sebenarnya waktu itu saya nggak mau dibilang sok tahu. Ohiya, tidak pesimis ka tapi realisitis.
Untuk haters, pasti lebih baik jika kita bicara. Ohiya, selama ini saya berusaha berpikir dari sudut pandang kalian. Saya setuju supel itu menjengkelkan dan saya mau berubah demi diri saya sendiri. Kalian sudah mencoba berpikir dari sudut pandang saya?
Untuk 911, harapan menunjukkan sihir bagi yang mempercayainya.

Wishes for 2014

Semoga saya dan teman-teman semakin solid. Ekawibrama makin merdeka. Bisa reunian sama MIRC. Yang 2014 nanti Ujian, semoga bisa sukses bersama-sama. Perpisahan 2013 bisa dibalas reunian besar-besaran di 2014. Semoga Clausep bahagia. Semoga saya nggak ada waktu mengingat smudama dan semoga bisa mencintai Smadama dengan sepenuh hati. Ramadhan 2014 harus keren. Osis Smadama harus mematahkan semua stigma negatif tentang mereka dan terus memperbaiki diri, intinya semakin kompak dan semangatnya merata. Bulan Bahasa 2014 ataupun KNPI harus Smadama yang menang. Semoga Wj mau minta maaf supaya notifikasi nggak rame lagi. Semoga Allah memberi kesempatan kedua supaya saya tidak tersepak dari Ekawibrama. Semoga saya dan teman-teman meraih banyak prestasi di 2014. Kita semua sehat, panjang umur, dilimpahkan rezeki yang berlimpah lagi bermanfaat dan haters serta judgers insyaf. Terimakasih 2013 dan selamat datang 2014 J

Selasa, 24 Desember 2013

Tulisan Istimewa Untuk Yang Istimewa

Buat Haters...

Kau hanya baru membaca dua kata dan kau sudah salah paham. Karena jumlah kalian tidak sedikit maka tidak mungkin aku menuliskan nama kalian satu-satu di pembuka tulisanku. Tapi kali ini dan memang baru pertama ini aku memilih memanggil kalian teman. Izinkanlah.

Teman, barangkali kamu tidak mengerti mengapa aku menulis untukmu. Kau boleh menduga dan jangan lupa menuliskannya dalam tulisan balasanmu, pun jika kau sudi menulis. Baik, akan kuberi tahu alasannya. Pertama, kamu sempat membuatku sedih. Kedua, aku rasa kita harus kenal.

Teman, jika kamu benar tidak menyukaiku tidak perlu buang waktu untuk membaca tulisan ini, karena pada akhirnya kamu akan menyesal sendiri. Bisa jadi menyesal karena tulisan ini membuang waktu atau bisa saja kamu tiba-tiba jatuh cinta. Untuk membuatmu jatuh cinta, aku percaya pada pepatah. Katanya, kamu harus mengenalku. Namaku, Mukarrama. Singkat tapi sepertinya susah ditulis dan dilisankan. Nama panggilanku banyak. Ini serius. Tapi yang terdengar serius saja yang akan kuceritakan. Kalo kamu mendengar aku dipanggil “Kalla” berarti kamu mendengar suara teman-teman yang cukup mencintaiku---atau paling tidak cukup mengenalku. Kamu pernah dengar aku dipanggil “Kay”? Jika pernah, berarti kamu mendengar suara 911. Nama panggilanku yang lain kebanyakan mendeskripsikan seperti apa aku; kail, manusia roti, manusia mars, cuek, sombong. Dan teman, kamu memanggilku apa? Mukarrama ya? Ketahuilah, dari banyak nama-nama itu aku lebih suka dipanggil Mukarrama, setidaknya setiap kau memanggilku, satu lagi doa untukku. Terimakasih untuk itu.

Banyak orang menganggap, aku adalah anak yang cuek, supel, sombong dan tertutup. Ada juga yang bilang aku membawa aura horror dikarenakan ekspresi dan tatapan yang tidak biasa. Sebenarnya, aku hanya anak yang membenci drama, lebih baik membego sendirian di kamar daripada terlibat dalam drama queen. Lebih baik duduk berhadapan laptop, ngeblog, cari tahu info terbaru, nonton tv, atau baca buku daripada drama. Demi apa, aku tidak tertarik.

            Aku sudah mencoba membuatmu jatuh cinta, berhasilkah? Aku percaya jawabannya tidak. Tapi maukah kau memperkenalkan diri? Mungkin jika aku mencintaimu lebih dulu, kau bisa mencintaiku kemudian. Tapi haters, eh maksudku teman mengapa kamu membenciku? Aku sering kali mendapati matamu berbicara, “Nassa Kubire’ Ko”. Kamu tahu, aku sedih. Sangat. Dan lama sekali. Bahkan sampai kau tengah membaca tulisan ini. Tapi aku sedikit senang kau bisa membenci sebab ini berarti kamu manusia. Aku pernah membaca tulisan seorang penulis terkenal dunia, yang sayangnya aku lupa namanya. Katanya, they hate what they don’t understand, and they are man. Ya benar sekali kita belum saling memahami dan paham akhirnya salah---salah paham. Kamu bahkan tidak tahu mengapa aku suka menulis, kamu tidak tahu mengapa nyaris setiap hari aku terlambat ke sekolah, kamu tidak tahu mengapa aku tiba-tiba diam mengamati seseorang atau yang paling sering mengapa aku bicara banyak tanpa tujuan yang jelas. Aku juga tidak tahu mengapa kamu membenciku, tidak tahu kapan mulai membenci, tidak tahu bencimu alami atau dibuat-buat oleh si pembenci.
            Caramu membenci sangat variatif dan inovatif. Adakalanya aku lelah dan merasa kalah, setelah itu kujadikan kau puisi. Hanya itu. Tapi caraku jangan disangka sederhana. Jika kau sangka begitu, kau benar. Caraku memang sederhana tapi bukankah puisi adalah hal yang sederhana yang dirumitkan, dan penyair mampu menyederhanakan yang rumit. Kau bingung? Ah, kau bingung dan belum jatuh cinta. Harus apa lagi, teman?

            Baiklah, terakhir sebelum kusudahi tulisanku aku ingin memberitahumu rahasia. Dengarlah. Pernah satu hari disaat sedih dan merasa sendiri aku malah menemukanmu sebagai motivasi dan inspirasiku. Sungguh. Motivasi tidak dicari, kau pun begitu yang datang sendiri tiba-tiba. Kamu adalah inspirasiku karena aku sadar kamu miliki banyak dibandingkan aku. Sudah lama, aku ingin marah pada inspirasi dan motivasiku tapi aku mengingat kata Bukowski, katanya aku harus melihat dari sudut pandangmu untuk memutuskan perlu marah atau justru memarahi diri sendiri, agar mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika tidak mengerti, katanya lagi, aku lebih baik bersikap pura-pura mengerti karena setidaknya akan mengurangi yang sakit hati. Kadang aku tidak mengerti kata Bukowski, tapi pada akhirnya aku hanya perlu berpura-pura mengerti kan?

            Sudah ya teman, semoga maksudku terbaca. Aku akan senang sekali jika kelak entah kapan mendapati suratmu dan didalamnya kau menyapaku teman. Sampaikan salamku kepada hatimu.

Dari, Saya
Orang yang bisa jadi (salah) kamu benci.

Pencitraan?

Apa sih itu Pencitraan? Samakah Pencitraan dengan Fake? Pencitraan boleh apa gimana??

Hmm kalo menurutku nih pencitraan itu bersinonim dengan jaga image alias jaim. Pencitraan itu bagaimana kamu memanipulasi agar citra kamu terlihat baik atau bener. Terlihat sama siapa? Nah kalo siapa ya pasti udah macam-macam, bisa keluarga, guru, teman-teman, gebetan, pacar, musuh dan masih banyak deh. Di banyak kasus, kalo orang fake biasanya konsisten tampil fake sementara yang pencitraan kadang nggak konsisten gitu. Pencitraan boleh apa enggak? Kalo boleh apa enggak kembali lagi ke masing-masing individu sih. Kalo menurutku nih, pencitraan itu berarti kamu nggak apa adanya. Tapi lain lagi, kalo kamu bisa jamin citra yang kamu udah usaha bangun itu awet, menurutku sih ya boleh aja soalnya itu bukan pencitraan lagi tapi merupakan tahap “be a a better person”.

Kasus pencitraan yang sering aku temui itu dimana seseorang tiba-tiba menjadi bijaksana, tiba-tiba diam, tiba-tiba baik, tiba-tiba ramah, tiba-tiba rajin, pokoknya perubahannya tuh lebay.

Dan rata-rata korban pencitraan tuh nggak sadar. Dan akhirnya korban dan pelaku pencitraan terjalin komunikasi yang lancar dan kalo kamu lagi sial, kamu akan dicitrakan pelaku dengan image buruk secara nggak langsung. Ngeri nggak??


Contoh pelaku pencitraan, nggak usah jauh-jauh, hehehe saya contohnya. Dalam kasus saya, saya biasa berusaha dengan keras sekeras-kerasnya mencitrakan diri untuk tidak lagi cuek, berusaha senyum, berusaha menyapa, berusaha menghilangkan sifat passupal dan tidak menatap orang dengan sinis. Karena faktanya, saya punya banyak haters dan mereka tidak menyukai cuek, supel dan tatapan saya. Dan kalo saya nggak mau melakukan pencitraan, kamu akan melihat saya tiba-tiba diam yang artinya saya mau jadi pengamat aja. Siapa tahu bisa menyadari sesuatu yang rahasia. Oh iya, kadang saya merasa dirugikan oleh pelaku pencitraan di sekitar saya. Kamu?

Sabtu, 30 November 2013

Aku Ingin

Karya: SSD

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


Kay suka sekali dengan puisi yang satu ini. Sukaaaaaa sekaliiiii. Sampai-sampai Kay tertarik untuk menyenangi yang namanya hujan. Hujan + Sapardi = Puisi. Entah alasannya apa, boleh jadi karena memang senada dengan realita. Mungkin juga, Kay sudah kecolongan jatuh cinta sama Eyang Sapardi.

Sajak Nopember

Siapa yang akan berbicara untuk kami 
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini 
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur 
yang berjejal 
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami 
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan 
siapa yang akan berbicara atas nama kami 
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan 
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan 
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami 
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana 
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
tanpa dicatat namanya 
kepada Ibu yang lebih besar dan agung : 
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah 
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
untuk pergi lebih dahulu 
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami 
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami 
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik 
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan 
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan 
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan 
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik 
tapi katakanlah kepada anak cucu kami; 
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu 
bertimbun dalam satu lobang 
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh 
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami 
terompet yang paling lantang ditiup 
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu 
kami pun bangkit dari kubur 
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah 
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan 
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati 
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka 
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu 
tanpa tahu siapa kami ini 
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus 
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal 
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah 
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar 
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah 
di ladang dan di laut, meskipun kalian 
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan 
dan kami tak lain baja yang membara hancur 
oleh pukulan 
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami 
tapi besok mesti tiba giliranmu 
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih 
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak 
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan 
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan 
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman  dan bapa 
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak 
ingat untuk apa kamu pergi 
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam 
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia 
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan 
apa saja untuknya 
jawablah : ya 
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa 
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari 
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur 
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan 
bahasa dan kehendak kami 
sudah kau dengarkah  suara napas kami 
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur 
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali 
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak 
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak 
tapi toh tak ada bedanya: 
kami telah memulainya 
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya : 
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan 
bagimu adalah awal pertaruhan 
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi 
meski kami pernah kau kenal atau tidak 
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani 
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik 
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung 
lantaran satu harapan yang pasti 
walau tak pernah kembali
kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda 
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama 
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami 
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan 
mengeluarkan ampun 
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi 
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini 
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati 
kami telah mati 
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini 
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami 
kami telah berkelahi; dan mati 
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami 
dan mengatakannya kepada siapa pun 
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami 
yang telah mati pagi sekali 
dan berjalan tanpa nama dan tanda 
dalam satu lobang kubur 
kami telah lahir dan selalu lahir 
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah 
selalu dan selalu berkelahi 
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak 
yang menyanyikan lagu puja hari ini 
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana 
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar 
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini 
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja 
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta

SSD