Jumat, 10 Januari 2014

Suatu hari, badut yang terluka dan istrinya yang dilukainya

Adakalanya yang kamu percaya, tak ada orang lain yang memercayainya. Saat itu, kamu boleh bertahan, atau justru mengutuk dirimu. Seperti Laruma, selalu percaya, Isuri—istrinya sebentar lagi pulang. Menebus surat cinta yang tak pernah terbalas. Seperti Laruma yang percaya bahwa ia tidak mandul, namun tidak bagi istrinya—Isuri.
         Laruma bertemu dengan Isuri di sebuah pesta ulang tahun. Hari itu, belum cukup tiga bulan Laruma menduda.Laruma menjadi badut. Dan memang, di kotanya, badut Laruma yang paling terkenal. Setiap minggu, ada saja panggilan buatnya. Biasa tiga kali seminggu. Bahkan setiap hari. Kadang pula, tak pernah sama sekali, tapi itu sangat jarang. Nyaris tak pernah. Laruma jatuh cinta waktu itu juga. Tidak susah mendapatkan Isuri, Laruma tinggal mengimingi masa depan cerah kepada orangtua Isuri, dan semuanya lancar. Isuri dipaksa menerima lamaran lelaki itu. Namun secerah apa masa depan yang bisa dijanjikan seorang badut? Hanya badut. Entah. Orangtua Isuri percaya pada Laruma. Isuri masih remaja waktu itu. Mereka menikah dengan jarak usia puluhan tahun.
                                                 ***
            Laruma dan Istri yang Melukainya
            Jika Isuri pulang, betapa ia akan terharu melihat segala macam bunga yang dulu dirawatnya, kini gantian aku yang merawat. Padahal dulu aku sangat benci bunga. Sampah, kataku. Semoga bukan itu pula alasan Isuri untuk pergi. Sekarang, ada beberapa pot Zinnia merah dan jingga yang setiap hari kurawat untuk Isuri. Bunga yang berasal dari daerah tropis Amerika Selatan itu, adalah bunga kesayangan Isuri. Setiap pagi, aku menyiramnya. Berbicara banyak hal pada bunga itu. Terkesan bodoh. Gila. Memang. Tapi, begitulah caraku,mengandaikan Isuri ada di dekatku.
            Memang benar, kepergian Isuri bukan sebab aku tak suka bunga. Barangkali ia masih mempermasalahkan pernikahan kami yang sudah sepuluh tahun, namun tak berbuah anak. Tapi kupikir ia pergi sebab penghasilanku sebagai badut tidak lagi mencukupi kebutuhannya.
            “Tapi sampai kapan?”
            “Sabar,” sergahku. “Ini hanya masalah waktu,” imbuhku kemudian.
            “Waktu?”
            Aku mengangguk.
            “Kamu sangat tidak realistis, aku butuh yang pasti,” bentak Isuri. Aku terhenyak.
            “Tapi kita bisa mencobanya lagi, kan?” anjurku. Berharap amarahnya segera reda.
            “Tidak, aku sudah capek. Ini sudah sepuluh tahun, dan kamu belum membuktikannya. Kesabaran mana lagi yang lebih tebal dari yang aku punya?”
            “Atau bagaimana jika kita mengadopsi anak Mbak Imah saja?”
            “Tidak! Aku mau anak dari rahimku dan benihmu. Kamu tidak bisa membahagiakanku. Mandul!”
            “Kamu jangan cari alasan, kamu mau pergi, karena kita miskin?”
            Ia diam.
            “Jawab Isuri!” bentakku.
            “Aku hanya menuntut janjimu sebelum kita menikah.”
            Pitamku memuncak. Kepala berat. Dadaku sesak. Mataku memerah. Ada yang memuncak dan tak bisa kuredam. Kupendam. Dan….
            Prak!
            Tanganku lolos ke wajah Isuri. Aku tidak terima semua alasannya.   Isuri berlari. Tak lagi melempar kata. Tak pula membalik tatap ke arahku. Ia lari. Terisak dengan parau suara yang menelusup tak mampu membuatku iba. Aku benar-benar tidak terima. Aku tidak mandul. Aku lelaki sehat. subur.
                                                     ***
            Barangkali inilah takdir kita. Kita harus berpisah. Kamu bertahan dengan ketidakmandulanmu—yang kamu yakini. Dan aku yakin, bahwa kamu mandul, dan aku ingin punya anak. Dari rahimku sendiri. Aku juga ingin hidup layak. Maaf jika aku pergi, aku ingin menemukan kebahagiaan yang lain. Dan mungkin bukan denganmu.
Beberapa potong kata dalam surat Isuri di subuh buta itu, masih aku ingat. Masih terus menjejak di benak. Memasungku dalam rasa bersalah. Mengapa tega aku menamparnya? Duh! Tapi, semua telah terlanjur terjadi. Semoga Isuri masih ingin kembali.
            Tandas lagi segelas kopi hitam di tadah mejaku. Aku harus berkali-kali ke dapur—mengisinya dengan yang baru. Aku harus membuat kopi seorang diri. Tiga tahun setelah Isuri pergi, aku terpaksa memberhentikan Mbak Imah—pembantuku. Aku tak sanggup lagi menggajinya. Membiarkan pembantu setia itu, pulang merawat suaminya di kampung.
                                                      ***
            Setiap sore, saat anak-anak pulang sekolah, atau selesai tidur siang, akungebadut di gang depan rumah. Kendati usiaku tak lagi muda, janjiku buat masa depan cerah Isuri, harus tetap kunyatakan. Aku harus bekerja. Aku tidak memasang tarif. Di dearahku ini, perekonomian kami hampir sama. Mana ada yang mau menyewaku. Seperti biasa, sebisanya kutarik perhatian anak-anak buat mendekat. Banyak cara. Aku bermain lempar bola. Memainkan kartu. Atau bisa juga aku berlelucon garing. Sesekali kuperagakan sulap yang dulu sangat kumahiri. Betapa perih mengingat dulu, saat jasaku masih dibutuhkan, dan aku sangat tenar. Apalah daya, waktu mengubah semuanya.
            Aku ngebadut tidak lebih dari sejam. Pun itu, telah menguras banyak tenaga dari tubuh ringkihku. Saat kuedarkan topi badutku ke lingkaran penonton, aku selalu berharap banyak yang menjatuhkan uang. Paling tidak, cukup buat makanku sehari. Aku malu terus menerus berhutang di kios samping rumah.
                                                  ***
            Isuri dan Suami yang Melukainya
Laruma, maafkan, aku harus pergi. Sekali lagi aku ingin punya anak dari rahimku. Kalau itu bukan dari benihmu barangkali bisa dari benih lelaki lain. Lelaki yang kaunikahi pacarnya dan menghadiahkan bunga Zinnia di pernikahanmu. Lelaki itu, mantan kekasihku. Aku yang kamu jadikan istri ketiga, dengan alasan dua isrtimu sebelumnya telah meninggal. Tapi, justru aku kira, dua istrimu itu, pergi karena kamu tak bisa memberinya anak dan tidak memberinya masa depan cerah seperti yang kamu janjikan kepada setiap yang ingin kamu nikahi. Bukan karena mereka meninggal. Jujur, dengan mantan kekasihku aku telah membuat janji, seminggu sebelum kamu menamparku. Subuh buta setelah tamparanmu itu, ia menjemputku. Dan meninggalkanmu. Maaf Laruma, aku inginkan anak. Ingin kaya.
                                                         ***
            Kuduga, sekarang Laruma tak lagi menunggu. Bisa jadi ia telah berkali-kali menikah, karena telah berkali-kali ditinggalkan. Betapa malang nasib lelaki itu. Aku kurang sabar apa lagi? Aku rela banting tulang demi menutupi upahnya yang tidak cukup untuk kebutuhan kami. Aku tidak masalah dengan pekerjaannya yang hanya badut asal penghasilannya cukup. Soal anak, aku tak bisa lagi bersabar. Aku ingin. Dan sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu dan bersabar. Tapi, Laruma lagi-lagi tak mampu memberiku anak.
            Ia pernah menyarankan untuk mengadopsi anak Mbak Imah. Kebetulan waktu itu Mbak Imah akan menyerahkan anaknya yang kurang lebih berusia dua tahun itu, demi kebahagiaanku dengan Laruma.
            “Aku ikhlas kok, Nya.”
            “Bukan masalah ikhlas atau tidaknya, aku tidak bisa bahagia kalau bukan anak dari rahimku sendiri,” tegasku. Padahal bukan soal mandul itu saja masalahnya. Aku juga ingin kaya.
            Waktu itu, Mbak Imah hanya terdiam. Walaupun harus kuakui, anaknya cukup lucu dan menggemaskan.
            Tiga puluh tahun sudah aku meninggalkan Laruma. Bisa jadi ia telah meninggal di usianya yang kukira hampir menjejak kepala tujuh. Atau bisa pula, sekarang ia tengah meringkuk sepi di panti jompo. Aku tak mau menaruh susah atasnya. Di sini, bersama Suppa—mantan kekasihku—dan kini adalah suamiku. Aku hidup bahagia. Hampir tiga puluh tahun pernikahan kami, dia memberiku tiga orang anak. Dua perempuan dan satu laki-kali. Mobil, rumah, dan pakaian dicukupi. Betapa kami bahagia. Aku sangat bahagia.
            Mbak Imah dan Rahasia Tuannya
“Tuan, aku rela anak ini, Tuan rawat.”
            “Tidak bisa, Imah, istriku tidak mau.”
            Di keluarga Tuan Laruma aku sudah mengabdi berpuluh tahun. Mulai dari istri pertama, hingga istri terakhir yang sangat ia cintai melebih semua istrinya—Isuri. Aku tahu semua peristiwa di kediaman tuanku. Istri pertamanya meninggal—dua tahun setelah pernikahan mereka. Aku kira wanita malang itu bunuh diri. Mulutnya penuh busa ketika pagi buta Tuan Laruma berteriak panik memanggilku. Sedang istri yang kedua, meninggal dengan urat nadi terputus. Tak genap tiga tahun mereka menikah. Ia juga bunuh diri. Hanya istri ketiga—Isuri, yang pergi dengan cara yang berbeda. Bisa jadi ketiga istri itu, meninggalkan tuanku, karena Tuan Laruma mandul. Tapi aku tidak yakin mandul adalah penyebabnya. Atau karena Tuan Laruma hanya badut? Aku masih tidak yakin.
                                                ***

            Soal mandul, aku sangat yakin, Tuan Laruma tidak mandul. Hanya saja barangkali, istri-istrinya yang tidak sabar, menunggu Tuhan mengaruniakan anak untuk mereka. Soal pekerjaannya yang hanya badut, aku juga tak yakin itu alasan istrinya buat pergi. Dua istri pertama Tuan Laruma pergi saat tuanku itu masih kaya. Saat panggilan ngebadutnya masih ramai.  Akulah satu-satunya orang yang percaya pada Tuan Laruma. Aku sangat yakin ia tidak mandul. Tapi apalah arti kepercayaanku ini padanya. Ia memang lelaki yang pantas ditinggalkan. Ia tak bertanggung jawab. Ia lelaki yang pantas merasa sepi. Tapi, lagi-lagi aku percaya ia tidak mandul. Anakku yang ingin ia adopsi, adalah anaknya juga. Anak hubungan gelap kami. Dan aku kira, akulah penyebab ia ditinggalkan istri-istrinya. Bukan mandul. Bukan uang. Bisa jadi, kami—aku dan Laruma, ketahuan oleh istri pertama dan keduanya, juga oleh Isuri. (*)

Rabu, 08 Januari 2014

Mawar di AtasTanah Merah


            Faisal Oddang-Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku terlalu melarutkan diri. Kepergian itu aku yakini bukan sebagai kehilangan. Tepatnya, berusaha aku meyakinkan diriku. Aku tidak kehilanganmu. Hanya perlu mencari cara bagaimana mendapatkanmu. Kepergianmu kala itu ditandai dengan basuh gerimis yang memanjakan pucuk ilalang. Tak sekalipun kamu menoleh. Pun aku sangat enggan mencegat langkahmu. Kita sama-sama teguh dengan prinsip. Titah untuk saling bertahan dengan perpisahan.
            Aku memang jenuh dengan hubungan ini. Untuk menatap matamu saja aku harus mencuri-curi. Kamu tak pernah mengizinkan.
            “Akan terus begitu, hingga kita menika.” Jawabmu ketika aku mepertanyakannya. Mempertanyakan kapan waktu kumiliki kilap indah itu.
             “Lalu bagaimana bisa kau menyebutnya cinta, Naf?” Kamu selalu tersenyum. Mungkin pertanyaan itu sudah terlalu sering kau dengar.
             “Sangat tipis sekat antara cinta dan nafsu.” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi setelah kau menjelaskan cinta dalam matamu.
***
            Kita memang telah sepakat untuk tidak terluka. Tapi sebagaimananpun caraku menafikkannya, nyata memang, hati tak pernah alpa dari kejujuran. Sedikitpun tiada sesal yang kumegahkan dengan keadaan yang menyeretku ke dipan pesakitan ini. Barangkali kamu lebih tenang menjalani segala bentuk kesibukan barumu. Tanpa harus meresah karena membayangkan betapa terlukanya hati yang kau tikam dengan kepergian yang tiba-tiba.
            “Maaf! Aku pun tak ingin melakukan ini. Tapi, prinsip kita berbeda.” Kamu tak sadar telah meremukkanku kala itu. Aku berusaha tegar. Kau benar-benar pergi.
            “Ini hanya untuk meramaikan saja, Naf. Hanya untuk menghargai.” Aku masih terus berusaha meyakinkanmu.
            “Tidak seperti ini cara menghargai. Aku tidak suka dengan perayaaan seperti ini. Apalagi bukan budaya dan adab kita.” Nada suaramu mulai meninggi. Mawar merah dan sebuah boneka dolphin kamu empaskan ke lantai. Namun lebih keras lagi kau empaskan ketulusanku. Baju kurung serta jilbab longgarmu semakin  tegas sebagai identitas penentangan  yang kuat terhadap akulturasi budaya di negeri ini. Kamu lantang menolak adanya perayaan valentine’s day dalam hidupmu. Ini adalah kali ketiga kamu empaskan ketulusanku di tanggal yang sama. Di tanggal 14 Februari. Dan sudah kuputuskan pula ini adalah yang terakhir kalinya kamu melakukan itu. Aku akan membiarkanmu pergi dengan prinsipmu. Dan pergi dengan prinsipku.
            Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku tidak ingin menjilat ludahku. Toh, bukan aku yang memutuskan ini. Memang rasa sakit ada padaku. Namun seharusnya kau yang merasakan penyesalan. Kelak atau tidak sama sekali. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu. Aku  terlalu sibuk untuk belajar mencintai lagi.
***
            Cerita cintaku bermula di sini, sebab kisah denganmu tak pernah lagi kusebut dalam hidupku. Ketika kutemukan seorang yang ternyata mampu membunuhmu dalam anganku. Aku tidak akan pernah memperkenalkan ia padamu. Tak ada sedikitpun hakmu untuk menahu perihal hidupku. Sebut saja ia langit, hujan, pelangi, atau apa saja sesuka kamu. Yang jelas aku telah mencintai sosok baru. Ia jauh beda denganmu. Tidak ada baju kurung. Tidak ada jilbab sebadan. Matanya biru. Senyum behelnya menawan mataku. Dia terlalu sempurna untuk kusandingkan denganmu. Bahkan dia yang selalu membawakan seikat kembang ketika malam valentine. Dia sama sepertiku, dan sangat beda denganmu dalam hal valentine. Yah, valetine. Sesuatu yang kau sebut tabu. Ah, aku sudah teramat jauh menceritakan kekasihku itu padamu.
            Setahun kemudian kami menikah. Kami: aku dan wanita yang mungkin telah kamu namai malam. Sebab sempat kuingat kau selalu menyandingkan malam dengan sesuatu yang tak bisa kau ketahui. Hitam, begitu kamu menyimpulkan. Pernikahan ini berakar ketika aku dan wanita itu menghabiskan waktu di tempat yang penuh asap rokok. Aroma alkohol tersebar di seluruh ruangan. Dan musik mendentum sangat kerasnya. Begitu yang sempat kuingat di malam yang indah itu. Wanita itu hamil. Aku harus menikahinya. Aku memang menginginkan itu. Aku ingin memilikinya utuh.
            Kamu tak usah menanya apakah aku masih menyimpan album pernikahan kami. Aku tak sudi memperlihatkanmu, Naf. Mungkin kamu akan memburamkan warnanya dengan derai penyesalanmu, tafsirku. Dan  mungkin kau tambah terluka setelah mengetahui kami dianugerahi seorang gadis mungil. Dia lebih cantik dari ibunya. Sungguh dia sempurna.
***
            Ada sesuatu yang sangat kurahasiakan padamu. Ini tentang pernikahan kami yang harus berakhir. Istriku tidak selingkuh. Juga tidak menuntut cerai. Dia meniggal setelah menjadikan rumah sakit persinggahan terlama dalam hari-harinya. Tepatnya hari-hari setelah pernikahan kami. Aku benar-benar kehilangan. Tapi jangan harap aku menginginkanmu kembali. Tidak! Aku sudah memilki sesuatu yang lebih menyita cintaku, putriku.
            Sampai sekarang aku masih menyukai dan memegahkan tanggal 14 Februari. Aku pernah membelikan puteriku sebuah boneka. Boneka dolphin berwarna biru muda, seperti yang pernah kamu empaskan di lantai rumahnmu. Dan aku tercekat ketika ia  melakukan hal yang sama denganmu kala itu. Aku langsung saja menafsir kalau kamu telah menyugestikan penyesalanmu yang  beraroma dendam kepada puteriku. Tapi, mana mungkin. Kalian tidak pernah bertemu sama sekali.
***
            Sekarang tanggal 14 Februari. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dari kejauhan kulihat kau menghampiriku. Masih sama seperti perpisahan yang silam. Dengan baju kurung, dan jilbab longgar. Hanya satu yang beda, di tanganmu tergenggam dua buah tangkai mawar berwarna merah. Aku sempat ragu kalau itu kau, Naf. Tapi, senyum santunmu menegaskan. Itu kau, gadis yang pernah hilang di mataku.

            Jalanmu lambat. Perlahan. Aku menyangka kamu akan menghampiriku. Tapi ternyata tidak. Kau menaruh setangakai bunga itu di atas makam isteriku. Lalu? Aku mencoba mengira lagi. Ada harap di dadaku kalau setangkai bunga lainnya untukku. Ternyata benar itu untukku. Aku sebenarnya sedikit menyesal karena belum sempat menitipkan putriku kepadamu. Kamu langsung saja pergi setelah menaruh bunga itu di atas tanah merah yang membekapku. Aku juga lupa mengabarkan: setelah satahun kematian istriku, aku harus pergi dengan cara yang sama. Kami mengidap AIDS, semoga tidak untuk putriku.(*)