Adakalanya
yang kamu percaya, tak ada orang lain yang memercayainya. Saat itu, kamu boleh
bertahan, atau justru mengutuk dirimu. Seperti Laruma, selalu percaya,
Isuri—istrinya sebentar lagi pulang. Menebus surat cinta yang tak pernah
terbalas. Seperti Laruma yang percaya bahwa ia tidak mandul, namun tidak bagi
istrinya—Isuri.
Laruma bertemu dengan Isuri di sebuah pesta ulang tahun. Hari itu, belum cukup
tiga bulan Laruma menduda.Laruma menjadi badut. Dan memang, di kotanya, badut
Laruma yang paling terkenal. Setiap minggu, ada saja panggilan buatnya. Biasa
tiga kali seminggu. Bahkan setiap hari. Kadang pula, tak pernah sama sekali,
tapi itu sangat jarang. Nyaris tak pernah. Laruma jatuh cinta waktu itu juga.
Tidak susah mendapatkan Isuri, Laruma tinggal mengimingi masa depan cerah
kepada orangtua Isuri, dan semuanya lancar. Isuri dipaksa menerima lamaran
lelaki itu. Namun secerah apa masa depan yang bisa dijanjikan seorang badut?
Hanya badut. Entah. Orangtua Isuri percaya pada Laruma. Isuri masih remaja
waktu itu. Mereka menikah dengan jarak usia puluhan tahun.
***
Laruma dan Istri yang Melukainya
Jika Isuri pulang, betapa ia akan terharu melihat segala macam bunga yang dulu
dirawatnya, kini gantian aku yang merawat. Padahal dulu aku sangat benci bunga.
Sampah, kataku. Semoga bukan itu pula alasan Isuri untuk pergi. Sekarang, ada
beberapa pot Zinnia merah dan jingga yang setiap hari kurawat untuk Isuri.
Bunga yang berasal dari daerah tropis Amerika Selatan itu, adalah bunga kesayangan
Isuri. Setiap pagi, aku menyiramnya. Berbicara banyak hal pada bunga itu.
Terkesan bodoh. Gila. Memang. Tapi, begitulah caraku,mengandaikan Isuri ada di
dekatku.
Memang benar, kepergian Isuri bukan sebab aku tak suka bunga. Barangkali ia
masih mempermasalahkan pernikahan kami yang sudah sepuluh tahun, namun tak
berbuah anak. Tapi kupikir ia pergi sebab penghasilanku sebagai badut tidak
lagi mencukupi kebutuhannya.
“Tapi sampai kapan?”
“Sabar,” sergahku. “Ini hanya masalah waktu,” imbuhku kemudian.
“Waktu?”
Aku mengangguk.
“Kamu sangat tidak realistis, aku butuh yang pasti,” bentak Isuri. Aku
terhenyak.
“Tapi kita bisa mencobanya lagi, kan?” anjurku. Berharap amarahnya segera reda.
“Tidak, aku sudah capek. Ini sudah sepuluh tahun, dan kamu belum
membuktikannya. Kesabaran mana lagi yang lebih tebal dari yang aku punya?”
“Atau bagaimana jika kita mengadopsi anak Mbak Imah saja?”
“Tidak! Aku mau anak dari rahimku dan benihmu. Kamu tidak bisa membahagiakanku.
Mandul!”
“Kamu jangan cari alasan, kamu mau pergi, karena kita miskin?”
Ia diam.
“Jawab Isuri!” bentakku.
“Aku hanya menuntut janjimu sebelum kita menikah.”
Pitamku memuncak. Kepala berat. Dadaku sesak. Mataku memerah. Ada yang memuncak
dan tak bisa kuredam. Kupendam. Dan….
Prak!
Tanganku lolos ke wajah Isuri. Aku tidak terima semua alasannya. Isuri
berlari. Tak lagi melempar kata. Tak pula membalik tatap ke arahku. Ia lari.
Terisak dengan parau suara yang menelusup tak mampu membuatku iba. Aku
benar-benar tidak terima. Aku tidak mandul. Aku lelaki sehat. subur.
***
Barangkali inilah takdir kita. Kita harus berpisah. Kamu bertahan
dengan ketidakmandulanmu—yang kamu yakini. Dan aku yakin, bahwa kamu mandul,
dan aku ingin punya anak. Dari rahimku sendiri. Aku juga ingin hidup layak.
Maaf jika aku pergi, aku ingin menemukan kebahagiaan yang lain. Dan mungkin
bukan denganmu.
Beberapa
potong kata dalam surat Isuri di subuh buta itu, masih aku ingat. Masih terus
menjejak di benak. Memasungku dalam rasa bersalah. Mengapa tega aku
menamparnya? Duh! Tapi, semua telah terlanjur terjadi. Semoga Isuri masih ingin
kembali.
Tandas lagi segelas kopi hitam di tadah mejaku. Aku harus berkali-kali ke
dapur—mengisinya dengan yang baru. Aku harus membuat kopi seorang diri. Tiga
tahun setelah Isuri pergi, aku terpaksa memberhentikan Mbak Imah—pembantuku.
Aku tak sanggup lagi menggajinya. Membiarkan pembantu setia itu, pulang merawat
suaminya di kampung.
***
Setiap sore, saat anak-anak pulang sekolah, atau selesai tidur siang, akungebadut di gang depan rumah. Kendati usiaku tak
lagi muda, janjiku buat masa depan cerah Isuri, harus tetap kunyatakan. Aku
harus bekerja. Aku tidak memasang tarif. Di dearahku ini, perekonomian kami
hampir sama. Mana ada yang mau menyewaku. Seperti biasa, sebisanya kutarik
perhatian anak-anak buat mendekat. Banyak cara. Aku bermain lempar bola.
Memainkan kartu. Atau bisa juga aku berlelucon garing. Sesekali kuperagakan
sulap yang dulu sangat kumahiri. Betapa perih mengingat dulu, saat jasaku masih dibutuhkan, dan aku sangat
tenar. Apalah daya, waktu mengubah semuanya.
Aku ngebadut tidak lebih dari sejam. Pun itu, telah
menguras banyak tenaga dari tubuh ringkihku. Saat kuedarkan topi badutku ke
lingkaran penonton, aku selalu berharap banyak yang menjatuhkan uang. Paling
tidak, cukup buat makanku sehari. Aku malu terus menerus berhutang di kios
samping rumah.
***
Isuri dan Suami yang Melukainya
Laruma,
maafkan, aku harus pergi. Sekali lagi aku ingin punya anak dari rahimku. Kalau
itu bukan dari benihmu barangkali bisa dari benih lelaki lain. Lelaki yang
kaunikahi pacarnya dan menghadiahkan bunga Zinnia di pernikahanmu. Lelaki itu,
mantan kekasihku. Aku yang kamu jadikan istri ketiga, dengan alasan dua isrtimu
sebelumnya telah meninggal. Tapi, justru aku kira, dua istrimu itu, pergi
karena kamu tak bisa memberinya anak dan tidak memberinya masa depan cerah
seperti yang kamu janjikan kepada setiap yang ingin kamu nikahi. Bukan karena
mereka meninggal. Jujur, dengan mantan kekasihku aku telah membuat janji,
seminggu sebelum kamu menamparku. Subuh buta setelah tamparanmu itu, ia
menjemputku. Dan meninggalkanmu. Maaf Laruma, aku inginkan anak. Ingin kaya.
***
Kuduga, sekarang Laruma tak lagi menunggu. Bisa jadi ia telah berkali-kali
menikah, karena telah berkali-kali ditinggalkan. Betapa malang nasib lelaki
itu. Aku kurang sabar apa lagi? Aku rela banting tulang demi menutupi upahnya
yang tidak cukup untuk kebutuhan kami. Aku tidak masalah dengan pekerjaannya
yang hanya badut asal penghasilannya cukup. Soal anak, aku tak bisa lagi
bersabar. Aku ingin. Dan sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk
menunggu dan bersabar. Tapi, Laruma lagi-lagi tak mampu memberiku anak.
Ia pernah menyarankan untuk mengadopsi anak Mbak Imah. Kebetulan waktu itu Mbak
Imah akan menyerahkan anaknya yang kurang lebih berusia dua tahun itu, demi
kebahagiaanku dengan Laruma.
“Aku ikhlas kok, Nya.”
“Bukan masalah ikhlas atau tidaknya, aku tidak bisa bahagia kalau bukan anak
dari rahimku sendiri,” tegasku. Padahal bukan soal mandul itu saja masalahnya.
Aku juga ingin kaya.
Waktu itu, Mbak Imah hanya terdiam. Walaupun harus kuakui, anaknya cukup lucu
dan menggemaskan.
Tiga puluh tahun sudah aku meninggalkan Laruma. Bisa jadi ia telah meninggal di
usianya yang kukira hampir menjejak kepala tujuh. Atau bisa pula, sekarang ia
tengah meringkuk sepi di panti jompo. Aku tak mau menaruh susah atasnya. Di
sini, bersama Suppa—mantan kekasihku—dan kini adalah suamiku. Aku hidup
bahagia. Hampir tiga puluh tahun pernikahan kami, dia memberiku tiga orang
anak. Dua perempuan dan satu laki-kali. Mobil, rumah, dan pakaian dicukupi.
Betapa kami bahagia. Aku sangat bahagia.
Mbak Imah dan Rahasia Tuannya
“Tuan, aku
rela anak ini, Tuan rawat.”
“Tidak bisa, Imah, istriku tidak mau.”
Di keluarga Tuan Laruma aku sudah mengabdi berpuluh tahun. Mulai dari istri
pertama, hingga istri terakhir yang sangat ia cintai melebih semua
istrinya—Isuri. Aku tahu semua peristiwa di kediaman tuanku. Istri pertamanya
meninggal—dua tahun setelah pernikahan mereka. Aku kira wanita malang itu bunuh
diri. Mulutnya penuh busa ketika pagi buta Tuan Laruma berteriak panik
memanggilku. Sedang istri yang kedua, meninggal dengan urat nadi terputus. Tak
genap tiga tahun mereka menikah. Ia juga bunuh diri. Hanya istri ketiga—Isuri,
yang pergi dengan cara yang berbeda. Bisa jadi ketiga istri itu, meninggalkan
tuanku, karena Tuan Laruma mandul. Tapi aku tidak yakin mandul adalah
penyebabnya. Atau karena Tuan Laruma hanya badut? Aku masih tidak yakin.
***
Soal mandul, aku sangat yakin, Tuan Laruma tidak mandul. Hanya saja barangkali,
istri-istrinya yang tidak sabar, menunggu Tuhan mengaruniakan anak untuk
mereka. Soal pekerjaannya yang hanya badut, aku juga tak yakin itu alasan
istrinya buat pergi. Dua istri pertama Tuan Laruma pergi saat tuanku itu masih
kaya. Saat panggilan ngebadutnya masih
ramai. Akulah satu-satunya orang yang percaya pada Tuan Laruma. Aku
sangat yakin ia tidak mandul. Tapi apalah arti kepercayaanku ini padanya. Ia
memang lelaki yang pantas ditinggalkan. Ia tak bertanggung jawab. Ia lelaki
yang pantas merasa sepi. Tapi, lagi-lagi aku percaya ia tidak mandul. Anakku
yang ingin ia adopsi, adalah anaknya juga. Anak hubungan gelap kami. Dan aku
kira, akulah penyebab ia ditinggalkan istri-istrinya. Bukan mandul. Bukan uang.
Bisa jadi, kami—aku dan Laruma, ketahuan oleh istri pertama dan keduanya, juga
oleh Isuri. (*)