Sabtu, 30 November 2013

Aku Ingin

Karya: SSD

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.


Kay suka sekali dengan puisi yang satu ini. Sukaaaaaa sekaliiiii. Sampai-sampai Kay tertarik untuk menyenangi yang namanya hujan. Hujan + Sapardi = Puisi. Entah alasannya apa, boleh jadi karena memang senada dengan realita. Mungkin juga, Kay sudah kecolongan jatuh cinta sama Eyang Sapardi.

Sajak Nopember

Siapa yang akan berbicara untuk kami 
siapa yang sudah tahu siapa sebenarnya kami ini 
bukanlah rahasia yang mesti diungkai dari kubur 
yang berjejal 
bukanlah tuntutan yang terlampau lama mengental
tapi siapa yang bisa memahami bahasa kami 
dan mengerti dengan baik apa yang kami katakan 
siapa yang akan berbicara atas nama kami 
yang berjejal dalam kubur
bukanlah pujian-pujian kosong yang mesti dinyanyikan 
bukanlah upacara-upacara palsu yang mesti dilaksanakan 
tapi siapa yang sanggup bercakap-cakap dengan kami 
siapa yang bisa paham makna kehendak kami
kami yang telah lahir dari ibu-ibu yang baik dan sederhana 
ibu-ibu yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
tanpa dicatat namanya 
kepada Ibu yang lebih besar dan agung : 
ialah Tanah Air
kami telah menyusu dari pada bunda yang tabah 
yang rela melepaskan seluruh anaknya sekaligus 
untuk pergi lebih dahulu 
apakah kau dengan para bunda itu mencari kubur kami 
apakah kau dengar para bunda itu memanggil nama kami 
mereka hanya berkaata : akan selalu kami lahirkan anak-anak yang baik 
tanpa mengeluh serta putus asa
di Solo dua orang dalam satu kuburan 
di Makasar sepuluh orang dalam satu kuburan 
di Surabaya seribu orang dalam satu kuburan 
dan kami tidak menuntut nisan yang lebih baik 
tapi katakanlah kepada anak cucu kami; 
di sini telah dikubur pamanmu, ayahmu, saudaramu 
bertimbun dalam satu lobang 
dan tiada yang tahu siapa nama mereka itu satu-persatu
tambur yang paling besar telah ditabuh 
dan orang-orang pun keluar untuk mengenangkan kami 
terompet yang paling lantang ditiup 
dan mereka berangkat untuk menangiskan nasib kami dulu 
kami pun bangkit dari kubur 
memeluki orang-orang itu dan berkata : pulanglah 
kami yang mati muda sudah tentram, dan jangan 
diusik oleh sesal yang tak keruan sebabnya
kami hanya berkelahi dan sudah itu : mati 
kami hanya berkelahi untukmu, untuk mereka 
dan hari depan, sudah itu : mati
orang-orang pun menyiramkan air bunga yang wangi saat itu 
tanpa tahu siapa kami ini 
tiada mereka dengarkan ucapan terimakasih kami yang tulus 
tiada mereka dengarkan salam kami bagi yang tinggal 
tiada mereka lihatkah senyum kami yang cerah 
dan sudah itu : mati
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
kami kenal nama-namamu di mesjid di gereja di jalan di pasar 
kami kenal nama-namamu di gunung di lembah di sawah 
di ladang dan di laut, meskipun kalian 
tiada menyadari kehadiran kami
siapa berkata bahwa kami telah musnah 
siapa berkata
tanah air adalah sebuah landasan 
dan kami tak lain baja yang membara hancur 
oleh pukulan 
ialah kemerdekaan
kemarin giliran kami 
tapi besok mesti tiba giliranmu 
kalau saja kau masih mau tahu ucapan terimakasih 
terhadap tanah tempatmu selama ini berpijak 
hidup dan mengerti makna kemerdekaan
dan kami adalah baja yang membara di atas landasan 
dibentuk oleh pukulan : ialah kemerdekaan 
(mungkin besok tiba giliranmu)
siapa yang tahu cinta saudara, paman  dan bapa 
siapa yang bisa merasa kehilangan saudara, paman dan bapak 
ingat untuk apa kamu pergi 
siapa yang pernah mendengar bedil, bom dan meriam 
siapa yang sempat melihat luka, darah dan bangkai manusia 
ingat kenapa kami tak kembali
begitu hebatkah kemerdekaan itu hingga kami korbankan 
apa saja untuknya 
jawablah : ya 
begitu agungkah ia hingga kami tak berhak menuntut apa-apa 
jawab lagi : ya
sudah kau dengarkah suara sepatu kami tengah malam hari 
datang untuk memberkati anak-anak yang tidur 
sebab merekalah yang kelak harus bisa mempergunakan 
bahasa dan kehendak kami 
sudah kau dengarkah  suara napas kami 
menyusup ke dalam setiap rahim bunda yang subur 
sebab kami selalu dan selalu lahir kembali 
selalu dan selalu berkelahi lagi
mungkin pernah kau kenal kami dahulu, mungkin juga tidak 
mungkin pernah kau jumpa kami dahulu, mungkin juga tidak 
tapi toh tak ada bedanya: 
kami telah memulainya 
dan kalian sekarang yang harus melanjutkannya
dan memang tak ada bedanya : 
kalau hari itu bagi kami adalah saat penghabisan 
bagimu adalah awal pertaruhan 
awal dari apa yang terlaksana kemarin, kini besok pagi 
meski kami pernah kau kenal atau tidak 
meski kami pernah kau jumpa atau tidak
kami adalah buruh, pelajar, prajurit dan bapa tani 
yang tak sempat mengenal nama masing-masing dengan baik 
kami turun dari kampung, benteng, ladang dan gunung 
lantaran satu harapan yang pasti 
walau tak pernah kembali
kami hanyalah kubur yang rata dengan tanah dan tak bertanda 
kami hanyalah kerangka-kerangka yang tertimbun dan tak punya nama 
tapi hari ini doakan sesuatu yang pantas bagi kami 
agar Tuhan yang selalu mendengar bisa mengerti dan 
mengeluarkan ampun 
kami adalah mayat-mayat yang sudah lebur dalam bumi 
tapi adukan segala yang pantas tentang diri kami ini 
agar tak lagi mengembara arwah kami
kami telah lahir, hidup dan berkelahi : dan mati 
kami telah mati 
lahir dari para ibu yang mengerti untuk apa kami lahir di sini 
hidup di bumi yang mengerti semangat yang menjalankan kami 
kami telah berkelahi; dan mati 
tapi siapakah yang bisa menterjemahkan bahasa hati kami 
dan mengatakannya kepada siapa pun 
tapi siapakah yang bisa menangkap bahasa jiwa kami 
yang telah mati pagi sekali 
dan berjalan tanpa nama dan tanda 
dalam satu lobang kubur 
kami telah lahir dan selalu lahir 
selalu dan selalu lahir dari para bunda yang tabah 
selalu dan selalu berkelahi 
di mana dan kapan saja
biarkan kami bicara lewat suara anak-anak 
yang menyanyikan lagu puja hari ini 
biarkanlah kami bicara lewat kesunyian suasana 
dari orang-orang yang mengheningkan cipta hari ini
Sementara bendera yang kami tegakkan dahulu berkibar 
atas rasa bangga kami yang sederhana
biarkanlah kami bicara hari ini 
lewat suara anak-anak yang menyanyikan lagu puja 
lewat kesunyian suasana orang-orang yang mengheningkan cipta

SSD

Penyair

Karya: Kahlil Gibran
Penyair adalah orang yang tidak bahagia, kerana betapa pun tinggi jiwa mereka,
mereka tetap diselubungi airmata.

Penyair adalah adunan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.
Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan cuba
membangun khayalan daripada abu itu.

Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan syurga lalu tiba
di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak
memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang
kembali ke negeri asalnya.

Tanya Sang Anak

Konon pada suatu desa terpencil
Terdapat sebuah keluarga
Terdiri dari sang ayah dan ibuSerta seorang anak gadis muda dan naif!
Pada suatu hari sang anak bertanya pada sang ibu!Ibu!
Mengapa aku dilahirkan wanita?Sang ibu menjawab,
"Kerana ibu lebih kuat dari ayah!
"Sang anak terdiam dan berkata,"Kenapa jadi begitu?
"Sang anak pun bertanya kepada sang ayah
!Ayah!
Kenapa ibu lebih kuat dari ayah?
Ayah pun menjawab,"Kerana ibumu seorang wanita!!!
Sang anak kembali terdiam.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
Ayah!
Apakah aku lebih kuat dari ayah?
Dan sang ayah pun kembali menjawab," Iya,
kau adalah yang terkuat!"
Sang anak kembali terdiam dan sesekali mengerut dahinya.
Dan dia pun kembali melontarkan pertanyaan yang lain.
Ayah!
Apakah aku lebih kuat dari ibu?
Ayah kembali menjawab,"Iya kaulah yang terhebat dan terkuat!
""Kenapa ayah, kenapa aku yang terkuat?
" Sang anak pun kembali melontarkan pertanyaan.
Sang ayah pun menjawab dengan perlahan dan penuh kelembutan.
"Kerana engkau adalah buah dari cintanya!
Cinta yang dapat membuat semua manusia tertunduk dan terdiam.
Cinta yang dapat membuat semua manusia buta, tuli serta bisu!
Dan kau adalah segalanya buat kami.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Tawamu adalah tawa kami.
Tangismu adalah air mata kami.
Dan cintamu adalah cinta kami.
Dan sang anak pun kembali bertanya!
Apa itu Cinta, Ayah?
Apa itu cinta, Ibu?
Sang ayah dan ibu pun tersenyum!
Dan mereka pun menjawab,"Kau, kau adalah cinta kami sayang.."

Kahlil Gibran

Indahnya Kematian

Panggilan
Biarkan aku terbaring dalam lelapku,
kerana jiwa ini telah dirasuki cinta,
dan biarkan daku istirahat,
kerana batin ini memiliki segala kekayaan malam dan siang.
Nyalakan lilin-lilin dan bakarlah dupa nan mewangi di sekeliling ranjang ini,
dan taburi tubuh ini dengan wangian melati serta mawar.
Minyakilah rambut ini dengan puspa dupa dan olesi kaki-kaki ini dengan wangian,
dan bacalah isyarat kematian yang telah tertulis jelas di dahi ini.
Biarku istirahat di ranjang ini,
kerana kedua bola mata ini telah teramat lelahnya;
Biar sajak-sajak berselimut perak bergetaran dan menyejukkan jiwaku;
Terbangkan dawai-dawai harpa dan singkapkan tabir lara hatiku.
Nyanyikanlah masa-masa lalu seperti engkau memandang fajar harapan dalam mataku,
kerana makna ghaibnya begitu lembut bagai ranjang kapas tempat hatiku berbaring.
Hapuslah air matamu, saudaraku,
dan tegakkanlah kepalamu seperti bunga-bunga menyemai jari-jemarinya menyambut mahkota
fajar pagi.
Lihatlah Kematian berdiri bagai kolom-kolom cahaya antara ranjangku dengan jarak infiniti;
Tahanlah nafasmu dan dengarkan kibaran kepak sayap-sayapnya.
Dekatilah aku, dan ucapkanlah selamat tinggal buatku.
Ciumlah mataku dengan seulas senyummu.
Biarkan anak-anak merentang tangan-tangan mungilnya buatku dengan kelembutan jemari
merah jambu mereka;
Biarkanlah Masa meletakkan tangan lembutnya di dahiku dan memberkatiku;
Biarkanlah perawan-perawan mendekati dan melihat bayangan Tuhan dalam mataku,
dan mendengar Gema Iradat-Nya berlarian dengan nafasku....

Kahlil Gibran

Waktu

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.

Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan
jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan
duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni
ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.

Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup
di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan
dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?

Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?
Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap
musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam
dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

Kahlil Gibran

Bagi Sahabatku Yang Tertindas

Wahai engkau yang dilahirkan di atas ranjang kesengsaraan,
diberi makan pada dada penurunan nilai,
yang bermain sebagai seorang anak di rumah tirani,
engkau yang memakan roti basimu dengan keluhan dan meminum air keruhmu bercampur
dengan airmata yang getir.
Wahai askar yang diperintah oleh hukum yang tidak adil oleh lelaki yang meninggalkan
isterinya,
anak-anaknya yang masih kecil,
sahabat-sahabatnya,
dan memasuki gelanggang kematian demi kepentingan cita-cita, yang mereka sebut 'keperluan'.
Wahai penyair yang hidup sebagai orang asing di kampung halamannya, tak dikenali di antara
mereka yang mengenalinya,
yang hanya berhasrat untuk hidup di atas sampah masyarakat dan dari tinggalan atas
permintaan dunia yang hanya tinta dan kertas.
Wahai tawanan yang dilemparkan ke dalam kegelapan kerana kejahatan kecil yang dibuat
seumpama kejahatan besar oleh mereka yang membalas kejahatan dengan kejahatan,
dibuang dengan kebijaksanaan yang ingin mempertahankan hak melalui cara-cara yang keliru.
Dan engkau, Wahai wanita yang malang,
yang kepadanya Tuhan menganugerahkan kecantikan.
Masa muda yang tidak setia memandangnya dan mengekorimu,
memperdayakan engkau,
menanggung kemiskinanmu dengan emas.
Ketika kau menyerah padanya, dia meninggalkanmu. Kau serupa mangsa yang gementar dalam
cakar-cakar penurunan nilai dan keadaan yang menyedihkan.
Dan kalian, teman-temanku yang rendah hati,
para martir bagi hukum buatan manusia.
Kau bersedih, dan kesedihanmu adalah akibat dari kebiadaban yang hebat,
dari ketidakadilan sang hakim, dari licik si kaya,
dan dari keegoisan hamba demi hawa nafsunya Jangan putus asa,
kerana di sebalik ketidakadilan dunia ini,
di balik persoalan, di balik awan gemawan,
di balik bumi, di balik semua hal ada suatu kekuatan yang tak lain adalah seluruh kadilan,
segenap kelembutan, semua kesopanan, segenap cinta kasih.
Engkau laksana bunga yang tumbuh dalam bayangan.
Segera angin yang lembut akan bertiup dan membawa bijianmu memasuki cahaya matahari
tempat mereka yang akan menjalani suatu kehidupan indah.Engkau laksana pepohonan
telanjang yang rendah kerana berat dan bersama salju musim dingin. Lalu musim bunga akan
tiba menyelimutimu dengan dedaunan hijau dan berair banyak.Kebenaran akan mengoyak tabir
airmata yang menyembunyikan senyumanmu. Saudaraku, kuucapkan selamat datang padamu dan
kuanggap hina para penindasmu.

Kahlil Gibran

Persahabatan

Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.

Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa
terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.

Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata
“Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata,
dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi,
dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam
ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada
tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta ,
tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam
membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan gairah segar
kehidupan.

Kahlil Gibran

Puisi Ibu Karya Chairil Anwar


Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu…..

Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya aku degil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu…..

Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
Dan Bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun…..
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….

Ibu….

Aku sayang padamu…..
Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterakanlah dia
Selamanya…..

Orang Gila dan Sajak-sajaknya

Mashdar Zainal-Seperti para penyair, aku selalu menyimpan kegilaan itu dengan baik. Kuselipkan rapat-rapat dalam tiap kata yang telah kususun. Kata-kata yang tak akan mudah kau cerna. Kata-kata yang tak akan pernah kau temukan dalam kamus manapun. Kata-kata yang hanya lahir dan mati dalam kepalaku seorang.
Percayalah! Kau takkan mampu memaknainya sebelum kau melewati sebuah pintu. Pintu di mana kau harus rela melepaskan segalanya. Melepaskan rasa malu lewat tawa-tawa yang lebar. Membenamkan pedih-perih dalam iris tangis yang panjang. Hingga ketika suaramu berhenti, akan kau dapati dunia telah berbeda.
Ah, sepertinya aku meladenimu dengan sajak lagi, ya? Maaf.  Aku hanya ingin menjawab dahimu yang berkerut-kerut. Meski kau diam, aku tahu, kalau kau tak pernah berhenti bertanya: apa yang sebenarnya ada dalam kepalamu? Ya, suatu saat nanti kau akan tahu.
Memang, dalam banyak hal kita selalu berseberangan. Kita tak pernah mau untuk—sesekali—menjadi ekor satu sama lain. Aku tak pernah mau mengaku bahwa sajak-sajak yang kurangkai itu, lahir semata darimu. Betapa sulit untuk mengatakan bahwa kau sangat berarti, setidaknya untuk keberlangsungan sajak-sajakku. Tapi, inilah kita, yang selalu mengangkat harga diri tinggi-tinggi hingga ketika kita dijatuhkan oleh perpisahan, rasa sakit itu mengabadi, menyebabkan kita lumpuh dan amnesia.
Ya, kita masih seperti bercakap di balik kelambu. Kau tak pernah tahu, ketika aku menyuruhmu pergi menemuinya, aku menangis. Aku pun tak tahu, wajahmu terluka atau tidak ketika dengan girang, kulemparkan sebuah sajak tentang keputusan (atau keputus asaan?). Yang pasti, sampai kini, semua itu masih tersimpan rapi. Dalam kepalaku—hanya dalam kepalaku.

Sajak Percakapan
Pernah, secara terang-terangan, kau melemparkan pernyataan pedas di depan mukaku. Katamu, orang-orang gila yang menggelosor dan telanjang di jalan-jalan itu, tak pernah memiliki sesuatu dalam kepala mereka. Katamu, kepala mereka hanyalah bilik kosong yang penuh dengan warna hitam. Ah, kau ada-ada saja. Sebagai perangkai sajak yang fanatik, maka maaf jika kemudian aku mengataimu sok tahu.
“Kalau begitu, apa yang ada dalam kepala mereka?” kau pun tak terima.
“Kata-kata.” Tandasku.
“Iya, kata-kata yang tak ada artinya. Di mana-mana mereka bilang hahahaha…. Kalau ada angin menerbangkan sesobek kertas, mereka akan bertepuk tangan, lalu  hihihihi…. Kalau ada ada kodok mati terlindas truk di tengan jalan, wajah mereka akan tertekuk lalu huhuhuhu…”
“Hei, jangan salah, hahahaha itu sajak. Hihihi… itu puisi. Huhuhu… itu lagu.”
“Kalau begitu, kau menyamakan penyair dengan orang gila, dong?”
“Justru orang gila itu lebih penyair daripada penyair. Orang gila itu guru besarnya para penyair.”
“Huh! Aneh, orang gila kok guru besarnya penyair!?”
“Memangnya, kau pikir karena apa mereka gila?”
“Ya, mana kutahu. Aku tak pernah gila.”
“Kalau begitu kuberi tahu… orang-orang gila itu, gila karena sajak-sajak yang selalu menletup dalam kepala mereka. Sajak-sajak yang selalu berdebat, seperti aku dan kau sekarang ini. Suka berdebat. Selalu berdebat. Dan akan terus berdebat.”
“Tapi kita kan bukan sajak. Kita manusia, yang merangkai sajak itu sendiri.”
“Orang gila kan juga manusia.”
“Jadi, orang gila bisa merangkai sajak?”
“Bukan hanya bisa. Ketika mereka memutuskan untuk tertawa hahahaha… mereka telah bersajak. Barangkali mengungkapkan kegirangan, atau kebahagiaan. Bisa saja, kan?”
“Bagaimana kalau mereka sedang sedih? Bersajak juga?”
“Lebih gila lagi ketika mereka bersedih. Huhuhuhu… dari sana mereka menguapkan tangisan. Tangisan yang sangat bening maknanya.”
“Ei, bagaimana kau tahu semua tentang orang gila?”
“………………”



Sajak Perdebatan
Kita tak akan bertemu kecuali ada hal-hal yang perlu kita perdebatkan. Kau terus mengajakku berdebat, meski jelas-jelas bibirmu mengering oleh sajak-sajak yang kulafaskan. Anehnya, aku pun tak pernah mau berhenti meladenimu. Ketika kita berdebat. Kita seperti dua orang yang sedang bercinta. Tak pernah mau melepaskan satu sama lain. Saling terpaut, saling memagut, saling menguatkan tanda-tanda: bahwa cinta itu ada.
“Bagaimana?” kau bertanya.
“Apanya yang bagaimana?” jawabku kik-kuk.
“Jadi, akan kau biarkan orang lain merangkai sajak kematian untukku?”
“Dia calon imammu, bukan algojo. Dan dia tak akan merangkai sajak kematian untukmu.”
“Tetap saja. Dia takkan pernah sepertimu.”
“Maksudmu?”
“Maksudku….” Suaramu tenggelam.
“Lalu, maumu, aku harus bagaimana?”
“Tidak bisakah kau ciptakan sajak-sajak yang agak panjang untukku, supaya aku bisa mendebatmu. Hingga tak seorang pun bisa menghentikan perdebatan kita. Hingga kedua bapak-ibukku sadar, bahwa hanya kau yang bisa merangkaikan sajak untukku. Hanya kau yang bisa kuajak bicara dan berdebat. Dari hati ke hati. Dari mati ke mati.”
“Memangnya kenapa kita harus selalu berdebat?”
“Memangnya apa yang membuat kita bisa bersama selama ini?”
“Sudah! Sekarang, mari kita memperdebatkan tentang kapan perdebatan kita harus dihentikan.”
“Kalau begitu, ciptakan saja satu sajak terakhir untukku, dan aku akan segera pergi.” katamu menegang, seperti anak-anak yang merajuk minta mainan.
“Akan kubuatkan!”
Dan aku telah memutuskan perdebatan (atau percintaan?) kita berakhir sampai di sini. Kita tak ubahnya dua kutub yang hidup sepasang tanpa pernah bisa menyatu. Cukuplah kita cecap manis dalam kegamangan yang asyik. Dalam kata-kata yang berloncatan seperti dua lumba-lumba di mulut kita. Dalam degupan yang bersikejar di balik rahasia kita. Aku tahu aku akan menyesal, tapi aku tak akan memperpanjang penyesalan ini. Aku masih bisa membuat sajak-sajak tanpamu, meski semuanya elegi—hanya elegi.

Sajak di Seberang Pintu
Kau bergamit jari dengannya dan berangkat berdua ke atas singgasana. Detik itu aku hadir sebagai undangan yang tak diinginkan. Dengan mata berkilat-kilat kau memintaku membacakan sebait-dua bait sajak persembahan dari seorang teman. Dengan suara sepat aku berdeklamasi, seperti penyendiri yang enggan mendatangi mati. Selepas pesta, baru kurasakan. Dadaku telah menjadi kosong. Kosong melompong. Hatiku sesak berdera-derak. Telingaku panas bagai dijerang bara. Tapi, di kepalaku, jutaan huruf merajalela. Berdesak-desakan ingin segera kumuntahkan.
Sejak itu—sejak kau jadi ratu bagi rajamu—kita tak pernah lagi berdebat. Dan aku merasa kesepian—sangat kesepian. Maka seperti yang kukatakan, aku mulai mengetuk pintu itu, dan memasukinya. Pintu di mana aku harus rela melepaskan segalanya. Melepaskan rasa malu lewat tawa-tawa yang lepas. Membenamkan pedih-perih dalam tangis yang panjang. Hingga ketika suaraku berhenti akan kudapati dunia telah berbeda.
Di balik pintu itu, semua memang berbeda—andai kau dapat melihat. Aku seperti terbang oleh sajak-sajakku sendiri. Di balik pintu itu ada sebuah celah kecil, sekecil lubang kunci. Diam-diam aku selalu mengintipmu dari celah itu. Dengan mata yang selalu merah. Sebenarnya aku ingin menyampaikan beberapa hal padamu—barangkali kerinduan. Tapi aku tak bisa. Karena, dunia kita sudah mulai berbeda—jauh berbeda.

Sajak di Mana-mana
Kau takkan percaya! Di balik pintu itu ada sebuah dunia seperti di wonderland. Di sana ada taman, sungai kecil, istana, lautan rumput, pohon-pohon raksasa, telaga, juga hutan belantara. Selepas membebaskanmu dari sajak-sajak dan perdebatan, aku memasuki pintu itu, dan kini aku merasa lega. Lepas. Meski ada yang kosong.
Sejak kita tak lagi bertemu. Aku tak perlu lagi bersusah payah mempresentasikan sajak-sajakku di hadapanmu. Aku cukup memuntahkannya di mana saja, dan tak seorangpun akan peduli atau memahaminya. Bahkan mungkin dirimu. Cukuplah kau jadi ibu dari anak-anakmu, dan aku akan menjadi bapak bagi sajak-sajakku yang piatu.
Terkadang, secara terang-terangan aku menertawakan kelucuanku sendiri. Akulah lelaki yang bisa melahirkan anak-anak bernama sajak, di mana saja, kapan saja, hampir setiap detik. Dan dengan tawa-tawa yang lepas—atau terkadang tangis, aku menelantarkan mereka di mana-mana: di trotoar-trotoar, di tempat sampah, di pasar-pasar, di alun-alun, di got-got yang becek, bahkan di lubang kloset. Dan tak seorang pun akan sudi memungutnya.
“Gluckgggggllllllluuuuuccccccckkkkkkggggggg……”
“Bicara apa dia?”
“Entahlah! Nggak penting banget.”
Lihatlah! Tak seorangpun akan memahaminya. Tentu saja. Sajak itu hanya lahir dan mati dalam kepalaku sendiri. Sajak-sajak yang dulu sempat mengenakan gaun paling rapi untuk kita ajak ke pesta perdebatan. Pesta percintaan. Dulu, usai sebuah perdebatan, kita selalu membebaskan satu sajak. Kita menyematkan sayap dan menerbangkannya ke langit lepas. Ya, itulah riwayat sajak-sajakku sebelum ia menjadi piatu.
Kini, lihatlah! Aku memuntahkannya di mana saja. Kubiarkan ia mengembara, menemui ajalnya sendiri, dan kembali ke rahim rahasia yang ada dalam kepalaku yang penuh palung.
“Brshbbbbbbbbrrrrrrrrrsssssssssshhhhhhhhhhhh…..”
“Dia bicara atau menggumam?”
“Mungkin menyanyi.”
“Breethbbbbbbbbrrrrrrrrrrreeeeeeeeeettttttttttttthhhhhhhhh..…..”
“Hahaha… Breeeeeet! Kayak suara kentut!”
“Hush! Jangan  mentertawakan orang gila! Nanti ketularan.”
“Trsntttttttttttttttttrrrrrrrrrsssssssrrrrrrrrrssssssssssssssssssssssnnnnnnnnnnnnn………”
“Tunggu, tunggu! Aku penasaran. Dia seperti berkata sesuatu.”
“Ah, orang gila kok diladenin. Orang gila ya begitu. Ayo! Nanti ketularan loh!”




Sajak Pengakuan
Barangkali kau sudah lupa pada apa-apa yang aku tanyakan dan aku nyatakan. Tapi aku selalu ingat, setiap kata yang menyembur dari lidahmu. Bahkan aku masih ingat dengan jelas pertanyaanmu waktu itu, “Ei, bagaimana kau tahu semua tentang orang gila?”
Kini, sebelum aku tersesat dalam pintu ini, dan tak pernah bisa kembali, aku punya sekerikil rahasia yang ingin kuselipkan ke telingamu. Rahasia tentang seseorang yang dulu pernah sangat dekat denganmu. Seseorang yang selalu mengajakmu memperdebatkan sajak-sajak. Seseorang yang kaulupakan dan kemudian menjadi bulan-bulanan sepi. Seseorang yang pada akhirnya mendatangi sebuah pintu dan merelakan dirinya hilang.

Tapi tidak benar-benar hilang. Lihatlah orang itu! Ia sering berseliweran di dekat rumahmu. Dengan rambut gimbal dan wajah coreng-moreng. Kini, selembar pakaian yang ia kenakan hanya segumpal akal yang kian hari kian pikun. Ia telanjang dalam rahasia-rahasia yang jenaka. Ia berjalan kesana-kemari tak tentu arah, dengan sajak-sajak yang terus meleleh dari sudut bibirnya, sajak-sajak yang berceceran di sembarang tempat. Hingga ketika anak-anakmu berpapasan dengannya, anak-anakmu akan berlari ketakutan sambil bersorak, “Orang gilaaa! Orang gilaaa!” *