Minggu, 29 September 2013

Essai Pertama

Rapor DPR [masih] Merah
Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata “DPR”? Gedung mewah atau realisasi kehendak rakyat? Seperti apa Anda menanggapi kinerja DPR? Puaskah atau malah Anda tidak tahu? Badan yang bertugas membuat undang-undang ini difungsikan sebagai badan legislatif, badan pengawas dan badan anggaran yang sayangnya terlanjur rusak citranya.  Bagi saya, terlalu lancang jika DPR dicap gagal akan tetapi apa boleh buat realitas yang terjadi merujuk pada dugaan “GAGAL”. Berbicara mengenai DPR memang selalu memunculkan banyak pemikiran dan opini, dimana ada pro disitu ada kontra, kira-kira seperti itulah slogannya. Beberapa suara meninggikan, namun ada juga yang sibuk merendahkan bahkan mengutuk DPR. Tentu rakyat sudah tahu persis bagaimana sepak terjang sang wakil rakyat. Masih lekat di ingatan, dimana saat pemilu legislatif mereka calon pemilik kursi sibuk beretorika. Masih akrab di telinga bagaimana Abraham Cs yang tergabung dalam KPK membongkar transaksi gelap dalam tubuh DPR. Masih hangat dibicarakan bagaimana kelakuan anggota parlemen mengkhianati janji-janji yang dulu mereka obral. Dengan adanya bermacam problema ini, kita tak lagi bisa menutup-nutupi kenyataan bahwa rapor DPR masih merah. Ada apa gerangan dengan DPR? Mengapa mereka menampakkan gejala penyimpangan dari kodratnya sebagai anggota DPR? Miris, kata yang paling tepat untuk DPR.
Dewan Perwakilan Rakyat, sebuah lembaga negara yang disebut-sebut sebagai penampung aspirasi sekaligus tangan rakyat, benarkah begitu? Sedangkan belakangan ini pemberitaan mengenai implementasi nyata anggota DPR sukses menyedot perhatian khalayak. Kontroversial sang DPR berhasil mengundang beberapa tokoh angkat bicara, misalnya saja Koordinator Komite Pemilih Indonesia. “K­­­­­­­­­­­­inerja DPR sangat tidak memuaskan dan jauh dari harapan rakyat banyak” kata Jeirry Sumampow. Beliau mengemukakan bahwa apa yang dilakukan anggota DPR hanya rutinitas semata. Tak ada yang signifikan dan penting. Lebih banyak ramai di publik untuk berwacana, tetapi sangat miskin hasil yang konkrit. Komentar Jeirry terhadap DPR tersebut seperti melayangkan tamparan keras kepada DPR dan yang mengherankan DPR seperti tuli terhadap kritik. Bisa dibilang saya setuju dengan pendapat beliau sebab apa yang telah dan sedang dilakukan DPR tiga perempat menyimpang dari tugas dan fungsi DPR sebenarnya. Yang artinya, secara tidak langsung setiap fraksi telah menciderai undang-undang yang mengatur dan menetapkan segala sesuatunya, termasuk fungsi DPR sendiri. Apa anda sepakat?
DPR kini seolah mati suri. Mulanya muncul ke publik menyuarakan perubahan lalu hilang tanpa pembuktian dan kemudian menampakkan diri lagi dengan rupa-rupa konflik lengkap dengan bumbu konspirasi. Katanya sih ingin menjadi wakil rakyat, ingin memperbaiki kesejahteraan rakyat tapi kini semua hanya sebatas retorika yang panas sebentar lalu hilang tiada kabar. Alhasil rakyat yang sebelumnya berharap tinggi mulai pesimis dengan wakilnya, wakil yang dahulunya menggebu-gebu berakhir pada aksi butiran debu. Belum hilang dari ingatan saya, satu iklan pemilu 2009, sebuah partai besar yang meneriakkan slogan “Katakan tidak untuk korupsi!”. Dan akhirnya, publik lagi-lagi dibuat terperanjat dan kecewa berat ketika harus dihadapkan kepada fakta bahwa setelah meraih kemenangan dalam pemilu justru mereka beramai-ramai menjelma menjadi tikus yang menggerogoti uang rakyat dan bukan tergesa-gesa dalam menjalankan perannya.
Sesuai amanat konstitusi DPR mempunyai fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Fungsi legislasi dimana DPR membuat undang-undang dan kebijakan publik bersama presiden. Tentunya dalam membentuk undang-undang DPR dituntut lebih peka terhadap rakyat agar dapat segera menindaklanjuti permasalahan vital di masyarakat. Faktanya, DPR hanya melegislasi sedikit dari banyak persoalan yang sedang menjerat rakyat yang diwakilinya dan itupun proses legislasi berlangsung muluk-muluk hingga target kuantitas undang-undang mengalami kemerosotan. Alih-alih mencapai target, undang-undang karya DPR justru cenderung menyengsarakan rakyat golongan bawah. Sebagai contoh, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang dianggap telah mengesampingkan kepentingan nasional dan mengedepankan kepentingan asing. Pasalnya, Undang-undang Migas ini memberi peluang dan dominasi asing untuk menguras dan mengeruk sumber daya alam Indonesia yang menurut UUD I945, Bumi, Air dan semua kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasasi oleh negara dan digunakan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Kalau sudah begini, artinya pertentangan terhadap UUD 1945 bukan? Dan yang lebih parah lagi, walaupun beberapa gugatan terhadap UU Migas sudah dilayangkan akan tetapi masih belum mendapat tanggapan yang berarti dari DPR. Sungguh sebuah ironi, kemelut yang bergejolak di masyarakat ternyata tidak berhasil menyita perhatian DPR, lagi dan lagi rakyat-lah yang tersakiti. Menyedihkan? Memang.
Kebobrokan yang sama juga terjadi pada fungsi anggaran, yaitu fungsi dimana DPR memiliki wewenang dalam mengajukan dan memberi persetujuan terhadap APBN bersama presiden. Menurut saya sendiri, DPR belum maksimal dalam melakukan penyusunan APBN. Prestasi budgeting DPR dalam melakukan pengelolaan dan penggunaan APBN meninggalkan kesan gradasi di mata rakyat. Gradasi ini diperkuat dengan realita bahwa APBN tidak tepat sasaran dan mengarah pada pemborosan kas negara. Padahal rakyat sudah berharap banyak kepada DPR agar fungsi DPR di bidang anggaran seharusnya dimanfaatkan sesempurna mungkin dengan cara mengajukan RAPBN yang pro-rakyat. Tapi apa yang terjadi? Nyaris tidak ada upaya yang berarti. Rakyat yang ingin melihat keberpihakan DPR malah diperlihatkan sang wakil rakyat yang tersandung kasus korupsi. Ya, kuasa DPR dalam menyusun APBN digunakan untuk melakukan praktek korupsi, contohnya Hambalang. Selain itu, DPR juga menetapkan anggraan tanpa melakukan peninjauan lebih yang katanya dikarenakan waktu dalam perancangannya yang hanya 2 x 30 hari. Fungsi Pengawasan dimana DPR mengawasi pemerintah eksekutif. sehingga pemerintah tidak bisa semena – mena menjalankan segala kebijakan yang dikehendaki oleh instansi Pemerintah, karena mendapatkan pengawasan dari DPR. Dalam menjalankan fungsi kontrol, DPR telah mendirikan banyak badan pengawas. Menurut saya dalam bidang ini DPR perlu menambah kepekaannya pada permasalahan yang telah, sedang atau mungkin juga akan terjadi.
Saya tidak tahu dan terlanjur paranoid bagaimana jadinya Indonesia kelak. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, jelas-jelas alasannya bisa saya dapatkan di DPR. Saya tahu DPR memegang tanggung jawab yang tidak ringan, apalagi sepele. Tapi apa alasan logis mengapa mereka tidur, BBM-an, menonton video porno, sampai bolos paripurna? Apa karena kursinya terlalu empuk dari tempat tidur atau karena kerja tidak kerja mereka tetap gajian? Mungkinkah jika persidangan berbicara soal kepentingan pribadi atau parpol mereka baru melek? Mungkin saja. Buktinya, ada beberapa anggota DPR yang memundurkan diri dari ranah parlemen demi partai, hal ini mencerminkan bahwa DPR menganut paradigma yang berorientasi pada kepentingan partai bukan semata-mata untuk rakyat. Saya jelas masih kebingungan, apakah gaji DPR beserta tunjangan ini itu masih tidak cukup sampai harus memakan uang rakyat? Lalu, apa hasil kunjungan kerja dan study banding ke negeri orang? Semua sama saja jalan-jalan ke luar negeri yang mengatasnamakan study banding yang tidak ketahuan mana hasilnya.
Saya termasuk warga negara yang haus akan perubahan dan saya ingin sekali menjadi bagian dalam membawa Indonesia ke perubahan yang lebih baik. Pun begitu saya tetap saja tidak bisa menjanjikan ini itu, akan tetapi jika saya dipercaya menjadi anggota perlemen saya akan sungguh-sungguh mengabdi pada rakyat, membuka ruang untuk rakyat berbicara, akan lebih banyak mendengar lalu bekerja bukan berbicara banyak yang berakhir banyak mengecewakan. Kontribusi yang akan saya lakukan adalah membagi waktu untuk mendengarkan curahan rakyat, mengadakan bersih-bersih di tubuh DPR dan tentu saja melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana harapan rakyat. Saya akan mengajak rakyat bekerja sama, memberi pemahaman bahwa sekeras apapun kemauan saya merubah Indonesia jika tak ada sinkronisasi antara rakyat dan wakil maka hasilnya akan tetap sama, nihil.

Rakyat Indonesia benar-benar menantikan kerja nyata DPR. Kami sudah teramat bosan dengan kisah dramatis DPR yang berlomba-lomba disuguhkan oleh media cetak maupun elektronik. Sudah saatnya anggota DPR bangun dari tidur panjangnya, sudah saatnya anggota parlemen mematahkan semua stigma, sudah saatnya sang wakil rakyat mendengar rintihan rakyat yang sempat terlupakan. Hentikan sensasi dan cetak prestasi. Sebab nilai yang tercantum dalam rapor bukan tanpa melihat hasil akhir, dengan kata lain kita sendirilah yang menentukan mines positif-nya, rapor merahkah atau rapor biru. Maka dari itu buatlah mereka yang memilihmu kegirangan mendapati rapormu. Jayalah Indonesia!

Minggu, 08 September 2013

#puisialay

Jatuh cinta lagi
Karya:Mukarrama Kay

Tuliskan aku sebuah puisi
Tentang bunga yang tak kenal layu
Setelah itu, kau boleh jatuh cinta lagi

Bawakan aku segala yang bimbang
lalu kita dengarkan apa yang mereka adukan
setelah itu, kau boleh jatuh cinta lagi

tunjukkan padaku rasa yang abadi
rasa yang tidak menyakiti
setelah itu, kau boleh jatuh cinta lagi

apa yang hendak kau cari lagi hai pemuda?
Aku yang telah jatuh mulai berjelek rasa karenamu
Apa yang hendak kau kekalkan hai pemuda?
Tidakkah kau mengerti kita bersandar pada segala yang sementara
Yang tidak kita tahu kapan akan raib oleh sang waktu

Pergilah
Biarkan aku menyendiri dalam sepi
Menjadi yang asing dan tak terkenali saat kau pulang
Kelak akan ku temui kau pada takdir yang lain
Mungkin juga, kepedihan lain
Akan ku tanyakan yang terlupakan
Selebihnya, lupakan!


#puisialay


Sihir Si Pendiam
karya: Mukarrama Kay

Tidakkah kau merasa kaku wahai pemuda pendiam?
Setiap hari bertemu..
Setiap hari pula saling mendiamkan..

Hanya diam..
Selalu dan begitu saja..
Di dekatmu semua berubah diam
Seperti terdiam dalam memori kelam sendiri-sendiri

Mata itu segala yang misteri ada padanya
Bibir itu mengekalkan rahasia tanpa bimbang
Sosok itu  meninggalkan magis semacam hipnotis
Kau..
Sihirkah itu?

Hanya memperlihatkan aura tak berwarna
Menjadikanku beku dalam pertanyaan tentangmu
Hanya dengan tatapan sayumu
Sejuta petanyaan menjadi terpaksa ku diamkan

Kau kejam!
Telah membungkam semua kata-kataku
Telah membunuh antrian aksara dalam pikirku
Mulai menyergapku dengan sugesti tak berwujud
Memaksaku menjadi seorang yang pendiam

Taukah?
Ingin sesekali ku menyapa tapi ragu akan kau balas diam
Ingin aku lebih dekat tapi takut kau malah mendiam
Taukah? Mungkin iya, mungkin tidak...
Tapi aku lebih percaya...
Kamu tidak pernah tahu menahu bukan?


Sungguh, aku benci kau yang pendiam!