Senin, 04 November 2013

“Aku mencintaimu dengan sederhana...”

Sejujurnya aku juga tidak tahu perasaan apa ini karena sejak Kamis itu aku selalu bahagia tiap kali melihatnya. Kamis itu kami memang tidak terlalu banyak bicara tidak juga sedikit tapi karena hari itu aku menemukan yang berbeda dalam sosoknya. Aku menatap matanya, mendengar suaranya yang lelah dan menangkap mimiknya yang acak. Aku melihat dan memahami ‘sesuatu’ sejak itu, tak perduli jika hanya perasaanku saja akan tetap kujadikan pemahaman amat penting.
Apa yang kamu pikirkan jika kamu tengah jatuh hati? Adakah kamu merasa ingin memiliki? Selalu bersama si “dia” dan bukan bersama “dia”? Atau yang paling mungkin dari segala kemungkinan kita sama-sama berprinsip bahwa: “aku tidak ingin apa-apa?” Hahaha Apakah aku terlalu terburu-buru untuk menanyakan itu semua? Sungguh aku merasa waktu terus menguntitku, menatapku mirip-mirip sedang berburu mangsa, aku takut waktu akan merampas semuanya sebelum aku memahami yang ingin aku paham. Ups maaf aku meladenimu dengan majas.
“.... aku mencintaimu dengan sederhana”. Mencintaimu begini saja, sebegini sudah cukup. Tiap hari melihatmu dari kejauhan sudah menyempurnakan sederhananya inginku, lalu tanpa disangka Oktober menghadiahkanku hujan puitik. Ya, terimakasih untuk Oktober yang telah mengadakan hari dimana kita sempat berbicara. Mungkin bagimu Oktober berlalu tanpa makna sementara aku masih menyedihkan kenyataan kalau Oktober berlalu terlalu bergegas.
Oktober membuatku buta seperti menjadi orang asing pada setiap sajakku kala september waktu itu. Aku serupa amnesia pada kata-kata setiap aku memandangimu dari tempat persembunyian yang tidak sempat kau lirik sejak Oktober. “Aku mencintaimu dengan sederhana”. Kini aku benar-benar tunamakna. Setelah kepergian Oktober terang-terangan kudapati diriku menunggu kedatangan seseorang, jelas aneh sebab aku bukan merindukan Oktober.
Aku takut menyadari, kamulah yang aku rindukan. Aku takut menyadari, alasan paling benar yang sudah tidak perlu pembenaran adalah kamu, kamu satu-satunya alasan mengapa di akhir Oktober mataku mengerling mencari-cari. Bukan karena paranoid hanya saja mencoba realistis terhadap ragam hipotesa yang sedang berdesakan dalam otakku. ‘Jangan!’ Penolakan itu berkali-kali dan berulang-ulang tersugestikan, dan lalu? Apa-apa yang sebelumnya kita harapkan ternyata tidak memberi apa-apa, -sungguh realita yang miris.
Satu november, Jumat itu adalah pagi yang paling cerah. Pagi itu aku melihatmu lagi selepas Oktober kemarin. Mungkin aku berlebihan tetapi menjadi maklum sebab hatiku tengah jatuh. Aku pernah bertanya pada diri sendiri: Kapan menunggu menjadi hal yang menyenangkan sekaligus menenangkan? Jawabannya ialah saat menunggumu untuk berbicara, tersenyum dan tertawa. Dalam perumpamaanku jam di semua dinding berhenti pada detik yang sama. Dalam pengandaianku tanggal di kalender berubah merah satu-satu. Dalam majasku angka-angka pada arloji rontok seperti tak memihak pada waktu. Ah, kau terlalu majas memang hingga sukar bagiku seorang penyair amatiran- mengerti setiap diksi dan aksimu.
Mungkin salahku. Telah meninggalkan sajakku di Oktober dan membawa yang tidak semestinya dari Oktober. Mungkin salahku berharap kuat pada harapan dan tidak menelisik bahwa harapan itu sewaktu-waktu dapat membuatku rapuh. Ya, akulah si gadis satu setengah dekade yang bodoh sebab telah mengadiksi pemuda klise sepertimu.
‘Realistis’
Sedikit hari yang kita lalui bersama-sama benar-benar tak terlupa -setidaknya bagiku-, dan itu membuatku akrab dengan kata Realistis. Perlahan ketika aku mengingat hari Kamis di Oktober dan hari-hari sesudahnya tampak dan semestinya aku harus belajar realistis. Realistis bahwa kamu mengenalku begitu saja, tahu namaku begitu saja, memandangku begitu saja, dan menilaiku begitu-begitu saja. Sulit melukiskan apa sebenarnya mauku tapi bisa kusederhanakan demikian: Aku ingin kita lebih dekat. Aku ingin kau mengenalku. Sebab entah mengapa aku ingin berbagi beberapa moment denganmu, berbagi moment yang baru pertama untukmu.
Karena ini november, aku ingin berbagi moment hujan denganmu. Hujan pertama kita. Aku ingin memuntahkan sajak untuk pemuda klise yang aku tahu tidak seutuhnya klise. Aku tahu sajakku masih sederhana untuk pemuda pintar seperti kamu, jadi aku ingin bodoh saja di depanmu agar kamu tidak mau menanyakannya balik. Sederhana bukan? Aku hanya ingin ada cerita tentang hujan pertama, hujan kedua, atau entahlah. Aku ingin memberitahumu cerita tentang hujan yang jatuh malu-malu, tentang hujan yang turun bergandengan harapan, tentang hujan yang merahasiakan kerinduan. Semua agar diam-diam kamu memahamiku dengan sederhana mirip aku yang mencintaimu sederhana yang juga masih dalam diam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar