Sejujurnya aku juga tidak tahu perasaan apa ini karena sejak
Kamis itu aku selalu bahagia tiap kali melihatnya. Kamis itu kami memang tidak
terlalu banyak bicara tidak juga sedikit tapi karena hari itu aku menemukan
yang berbeda dalam sosoknya. Aku menatap matanya, mendengar suaranya yang lelah
dan menangkap mimiknya yang acak. Aku melihat dan memahami ‘sesuatu’ sejak itu,
tak perduli jika hanya perasaanku saja akan tetap kujadikan pemahaman amat penting.
Apa yang kamu pikirkan jika kamu tengah jatuh hati? Adakah
kamu merasa ingin memiliki? Selalu bersama si “dia” dan bukan bersama “dia”? Atau
yang paling mungkin dari segala kemungkinan kita sama-sama berprinsip bahwa: “aku
tidak ingin apa-apa?” Hahaha Apakah aku terlalu terburu-buru untuk menanyakan
itu semua? Sungguh aku merasa waktu terus menguntitku, menatapku mirip-mirip sedang
berburu mangsa, aku takut waktu akan merampas semuanya sebelum aku memahami
yang ingin aku paham. Ups maaf aku meladenimu dengan majas.
“.... aku mencintaimu dengan sederhana”. Mencintaimu begini
saja, sebegini sudah cukup. Tiap hari melihatmu dari kejauhan sudah menyempurnakan
sederhananya inginku, lalu tanpa disangka Oktober menghadiahkanku hujan puitik.
Ya, terimakasih untuk Oktober yang telah mengadakan hari dimana kita sempat
berbicara. Mungkin bagimu Oktober berlalu tanpa makna sementara aku masih
menyedihkan kenyataan kalau Oktober berlalu terlalu bergegas.
Oktober membuatku buta seperti menjadi orang asing pada
setiap sajakku kala september waktu itu. Aku serupa amnesia pada kata-kata
setiap aku memandangimu dari tempat persembunyian yang tidak sempat kau lirik
sejak Oktober. “Aku mencintaimu dengan sederhana”. Kini aku benar-benar
tunamakna. Setelah kepergian Oktober terang-terangan kudapati diriku menunggu
kedatangan seseorang, jelas aneh sebab aku bukan merindukan Oktober.
Aku takut menyadari, kamulah yang aku rindukan. Aku takut
menyadari, alasan paling benar yang sudah tidak perlu pembenaran adalah kamu,
kamu satu-satunya alasan mengapa di akhir Oktober mataku mengerling
mencari-cari. Bukan karena paranoid hanya saja mencoba realistis terhadap ragam
hipotesa yang sedang berdesakan dalam otakku. ‘Jangan!’ Penolakan itu
berkali-kali dan berulang-ulang tersugestikan, dan lalu? Apa-apa yang
sebelumnya kita harapkan ternyata tidak memberi apa-apa, -sungguh realita yang miris.
Satu november, Jumat itu adalah pagi yang paling cerah. Pagi
itu aku melihatmu lagi selepas Oktober kemarin. Mungkin aku berlebihan tetapi
menjadi maklum sebab hatiku tengah jatuh. Aku pernah bertanya pada diri
sendiri: Kapan menunggu menjadi hal yang menyenangkan sekaligus menenangkan? Jawabannya
ialah saat menunggumu untuk berbicara, tersenyum dan tertawa. Dalam
perumpamaanku jam di semua dinding berhenti pada detik yang sama. Dalam
pengandaianku tanggal di kalender berubah merah satu-satu. Dalam majasku
angka-angka pada arloji rontok seperti tak memihak pada waktu. Ah, kau terlalu
majas memang hingga sukar bagiku –seorang penyair amatiran- mengerti
setiap diksi dan aksimu.
Mungkin salahku. Telah meninggalkan sajakku di Oktober dan
membawa yang tidak semestinya dari Oktober. Mungkin salahku berharap kuat pada
harapan dan tidak menelisik bahwa harapan itu sewaktu-waktu dapat membuatku
rapuh. Ya, akulah si gadis satu setengah dekade yang bodoh sebab telah
mengadiksi pemuda klise sepertimu.
‘Realistis’
Sedikit hari yang kita lalui bersama-sama benar-benar tak
terlupa -setidaknya bagiku-, dan itu membuatku akrab dengan kata Realistis. Perlahan
ketika aku mengingat hari Kamis di Oktober dan hari-hari sesudahnya tampak dan
semestinya aku harus belajar realistis. Realistis bahwa kamu mengenalku begitu
saja, tahu namaku begitu saja, memandangku begitu saja, dan menilaiku
begitu-begitu saja. Sulit melukiskan apa sebenarnya mauku tapi bisa
kusederhanakan demikian: Aku ingin kita lebih dekat. Aku ingin kau mengenalku. Sebab
entah mengapa aku ingin berbagi beberapa moment denganmu, berbagi moment yang
baru pertama untukmu.
Karena ini november, aku ingin berbagi moment hujan denganmu.
Hujan pertama kita. Aku ingin memuntahkan sajak untuk pemuda klise yang aku
tahu tidak seutuhnya klise. Aku tahu sajakku masih sederhana untuk pemuda
pintar seperti kamu, jadi aku ingin bodoh saja di depanmu agar kamu tidak mau
menanyakannya balik. Sederhana bukan? Aku hanya ingin ada cerita tentang hujan
pertama, hujan kedua, atau entahlah. Aku ingin memberitahumu cerita tentang
hujan yang jatuh malu-malu, tentang hujan yang turun bergandengan harapan,
tentang hujan yang merahasiakan kerinduan. Semua agar diam-diam kamu memahamiku
dengan sederhana mirip aku yang mencintaimu sederhana yang juga masih dalam
diam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar