Rabu, 08 Januari 2014

Mawar di AtasTanah Merah


            Faisal Oddang-Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku terlalu melarutkan diri. Kepergian itu aku yakini bukan sebagai kehilangan. Tepatnya, berusaha aku meyakinkan diriku. Aku tidak kehilanganmu. Hanya perlu mencari cara bagaimana mendapatkanmu. Kepergianmu kala itu ditandai dengan basuh gerimis yang memanjakan pucuk ilalang. Tak sekalipun kamu menoleh. Pun aku sangat enggan mencegat langkahmu. Kita sama-sama teguh dengan prinsip. Titah untuk saling bertahan dengan perpisahan.
            Aku memang jenuh dengan hubungan ini. Untuk menatap matamu saja aku harus mencuri-curi. Kamu tak pernah mengizinkan.
            “Akan terus begitu, hingga kita menika.” Jawabmu ketika aku mepertanyakannya. Mempertanyakan kapan waktu kumiliki kilap indah itu.
             “Lalu bagaimana bisa kau menyebutnya cinta, Naf?” Kamu selalu tersenyum. Mungkin pertanyaan itu sudah terlalu sering kau dengar.
             “Sangat tipis sekat antara cinta dan nafsu.” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi setelah kau menjelaskan cinta dalam matamu.
***
            Kita memang telah sepakat untuk tidak terluka. Tapi sebagaimananpun caraku menafikkannya, nyata memang, hati tak pernah alpa dari kejujuran. Sedikitpun tiada sesal yang kumegahkan dengan keadaan yang menyeretku ke dipan pesakitan ini. Barangkali kamu lebih tenang menjalani segala bentuk kesibukan barumu. Tanpa harus meresah karena membayangkan betapa terlukanya hati yang kau tikam dengan kepergian yang tiba-tiba.
            “Maaf! Aku pun tak ingin melakukan ini. Tapi, prinsip kita berbeda.” Kamu tak sadar telah meremukkanku kala itu. Aku berusaha tegar. Kau benar-benar pergi.
            “Ini hanya untuk meramaikan saja, Naf. Hanya untuk menghargai.” Aku masih terus berusaha meyakinkanmu.
            “Tidak seperti ini cara menghargai. Aku tidak suka dengan perayaaan seperti ini. Apalagi bukan budaya dan adab kita.” Nada suaramu mulai meninggi. Mawar merah dan sebuah boneka dolphin kamu empaskan ke lantai. Namun lebih keras lagi kau empaskan ketulusanku. Baju kurung serta jilbab longgarmu semakin  tegas sebagai identitas penentangan  yang kuat terhadap akulturasi budaya di negeri ini. Kamu lantang menolak adanya perayaan valentine’s day dalam hidupmu. Ini adalah kali ketiga kamu empaskan ketulusanku di tanggal yang sama. Di tanggal 14 Februari. Dan sudah kuputuskan pula ini adalah yang terakhir kalinya kamu melakukan itu. Aku akan membiarkanmu pergi dengan prinsipmu. Dan pergi dengan prinsipku.
            Seharusnya aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku tidak ingin menjilat ludahku. Toh, bukan aku yang memutuskan ini. Memang rasa sakit ada padaku. Namun seharusnya kau yang merasakan penyesalan. Kelak atau tidak sama sekali. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu. Aku  terlalu sibuk untuk belajar mencintai lagi.
***
            Cerita cintaku bermula di sini, sebab kisah denganmu tak pernah lagi kusebut dalam hidupku. Ketika kutemukan seorang yang ternyata mampu membunuhmu dalam anganku. Aku tidak akan pernah memperkenalkan ia padamu. Tak ada sedikitpun hakmu untuk menahu perihal hidupku. Sebut saja ia langit, hujan, pelangi, atau apa saja sesuka kamu. Yang jelas aku telah mencintai sosok baru. Ia jauh beda denganmu. Tidak ada baju kurung. Tidak ada jilbab sebadan. Matanya biru. Senyum behelnya menawan mataku. Dia terlalu sempurna untuk kusandingkan denganmu. Bahkan dia yang selalu membawakan seikat kembang ketika malam valentine. Dia sama sepertiku, dan sangat beda denganmu dalam hal valentine. Yah, valetine. Sesuatu yang kau sebut tabu. Ah, aku sudah teramat jauh menceritakan kekasihku itu padamu.
            Setahun kemudian kami menikah. Kami: aku dan wanita yang mungkin telah kamu namai malam. Sebab sempat kuingat kau selalu menyandingkan malam dengan sesuatu yang tak bisa kau ketahui. Hitam, begitu kamu menyimpulkan. Pernikahan ini berakar ketika aku dan wanita itu menghabiskan waktu di tempat yang penuh asap rokok. Aroma alkohol tersebar di seluruh ruangan. Dan musik mendentum sangat kerasnya. Begitu yang sempat kuingat di malam yang indah itu. Wanita itu hamil. Aku harus menikahinya. Aku memang menginginkan itu. Aku ingin memilikinya utuh.
            Kamu tak usah menanya apakah aku masih menyimpan album pernikahan kami. Aku tak sudi memperlihatkanmu, Naf. Mungkin kamu akan memburamkan warnanya dengan derai penyesalanmu, tafsirku. Dan  mungkin kau tambah terluka setelah mengetahui kami dianugerahi seorang gadis mungil. Dia lebih cantik dari ibunya. Sungguh dia sempurna.
***
            Ada sesuatu yang sangat kurahasiakan padamu. Ini tentang pernikahan kami yang harus berakhir. Istriku tidak selingkuh. Juga tidak menuntut cerai. Dia meniggal setelah menjadikan rumah sakit persinggahan terlama dalam hari-harinya. Tepatnya hari-hari setelah pernikahan kami. Aku benar-benar kehilangan. Tapi jangan harap aku menginginkanmu kembali. Tidak! Aku sudah memilki sesuatu yang lebih menyita cintaku, putriku.
            Sampai sekarang aku masih menyukai dan memegahkan tanggal 14 Februari. Aku pernah membelikan puteriku sebuah boneka. Boneka dolphin berwarna biru muda, seperti yang pernah kamu empaskan di lantai rumahnmu. Dan aku tercekat ketika ia  melakukan hal yang sama denganmu kala itu. Aku langsung saja menafsir kalau kamu telah menyugestikan penyesalanmu yang  beraroma dendam kepada puteriku. Tapi, mana mungkin. Kalian tidak pernah bertemu sama sekali.
***
            Sekarang tanggal 14 Februari. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dari kejauhan kulihat kau menghampiriku. Masih sama seperti perpisahan yang silam. Dengan baju kurung, dan jilbab longgar. Hanya satu yang beda, di tanganmu tergenggam dua buah tangkai mawar berwarna merah. Aku sempat ragu kalau itu kau, Naf. Tapi, senyum santunmu menegaskan. Itu kau, gadis yang pernah hilang di mataku.

            Jalanmu lambat. Perlahan. Aku menyangka kamu akan menghampiriku. Tapi ternyata tidak. Kau menaruh setangakai bunga itu di atas makam isteriku. Lalu? Aku mencoba mengira lagi. Ada harap di dadaku kalau setangkai bunga lainnya untukku. Ternyata benar itu untukku. Aku sebenarnya sedikit menyesal karena belum sempat menitipkan putriku kepadamu. Kamu langsung saja pergi setelah menaruh bunga itu di atas tanah merah yang membekapku. Aku juga lupa mengabarkan: setelah satahun kematian istriku, aku harus pergi dengan cara yang sama. Kami mengidap AIDS, semoga tidak untuk putriku.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar