Faisal Oddang-Seharusnya
aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk
melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku
terlalu melarutkan diri. Kepergian itu aku yakini bukan sebagai kehilangan. Tepatnya,
berusaha aku meyakinkan diriku. Aku tidak kehilanganmu. Hanya perlu mencari
cara bagaimana mendapatkanmu. Kepergianmu kala itu ditandai dengan basuh
gerimis yang memanjakan pucuk ilalang. Tak sekalipun kamu menoleh. Pun aku
sangat enggan mencegat langkahmu. Kita sama-sama teguh dengan prinsip. Titah
untuk saling bertahan dengan perpisahan.
Aku
memang jenuh dengan hubungan ini. Untuk menatap matamu saja aku harus
mencuri-curi. Kamu tak pernah mengizinkan.
“Akan
terus begitu, hingga kita menika.” Jawabmu ketika aku mepertanyakannya.
Mempertanyakan kapan waktu kumiliki kilap indah itu.
“Lalu
bagaimana bisa kau menyebutnya cinta, Naf?” Kamu selalu tersenyum. Mungkin
pertanyaan itu sudah terlalu sering kau dengar.
“Sangat
tipis sekat antara cinta dan nafsu.” Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi
setelah kau menjelaskan cinta dalam matamu.
***
Kita
memang telah sepakat untuk tidak terluka. Tapi sebagaimananpun caraku
menafikkannya, nyata memang, hati tak pernah alpa dari kejujuran. Sedikitpun
tiada sesal yang kumegahkan dengan keadaan yang menyeretku ke dipan pesakitan
ini. Barangkali kamu lebih tenang menjalani segala bentuk kesibukan barumu.
Tanpa harus meresah karena membayangkan betapa terlukanya hati yang kau tikam
dengan kepergian yang tiba-tiba.
“Maaf!
Aku pun tak ingin melakukan ini. Tapi, prinsip kita berbeda.” Kamu tak sadar
telah meremukkanku kala itu. Aku berusaha tegar. Kau benar-benar pergi.
“Ini
hanya untuk meramaikan saja, Naf. Hanya untuk menghargai.” Aku masih terus
berusaha meyakinkanmu.
“Tidak
seperti ini cara menghargai. Aku tidak suka dengan perayaaan seperti ini.
Apalagi bukan budaya dan adab kita.” Nada suaramu mulai meninggi. Mawar merah
dan sebuah boneka dolphin kamu empaskan ke lantai. Namun lebih
keras lagi kau empaskan ketulusanku. Baju kurung serta jilbab longgarmu
semakin tegas sebagai identitas penentangan yang kuat
terhadap akulturasi budaya di negeri ini. Kamu lantang menolak adanya
perayaan valentine’s day dalam hidupmu. Ini adalah kali ketiga
kamu empaskan ketulusanku di tanggal yang sama. Di tanggal 14 Februari. Dan
sudah kuputuskan pula ini adalah yang terakhir kalinya kamu melakukan itu. Aku
akan membiarkanmu pergi dengan prinsipmu. Dan pergi dengan prinsipku.
Seharusnya
aku mencarimu. Segera. Kehilangan bukan perkara bagaimana aku sanggup untuk
melupakanmu. Tapi, bagaimana aku menjalani hidup tanpamu. Ah, sudahlah Naf. Aku
tidak ingin menjilat ludahku. Toh, bukan aku yang memutuskan ini. Memang rasa
sakit ada padaku. Namun seharusnya kau yang merasakan penyesalan. Kelak atau
tidak sama sekali. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu.
Aku terlalu sibuk untuk belajar mencintai lagi.
***
Cerita
cintaku bermula di sini, sebab kisah denganmu tak pernah lagi kusebut dalam
hidupku. Ketika kutemukan seorang yang ternyata mampu membunuhmu dalam anganku.
Aku tidak akan pernah memperkenalkan ia padamu. Tak ada sedikitpun hakmu untuk
menahu perihal hidupku. Sebut saja ia langit, hujan, pelangi, atau apa saja
sesuka kamu. Yang jelas aku telah mencintai sosok baru. Ia jauh beda denganmu.
Tidak ada baju kurung. Tidak ada jilbab sebadan. Matanya biru. Senyum behelnya
menawan mataku. Dia terlalu sempurna untuk kusandingkan denganmu. Bahkan dia
yang selalu membawakan seikat kembang ketika malam valentine. Dia sama
sepertiku, dan sangat beda denganmu dalam hal valentine. Yah, valetine. Sesuatu
yang kau sebut tabu. Ah, aku sudah teramat jauh menceritakan kekasihku itu padamu.
Setahun
kemudian kami menikah. Kami: aku dan wanita yang mungkin telah kamu namai
malam. Sebab sempat kuingat kau selalu menyandingkan malam dengan sesuatu yang
tak bisa kau ketahui. Hitam, begitu kamu menyimpulkan. Pernikahan ini berakar ketika
aku dan wanita itu menghabiskan waktu di tempat yang penuh asap rokok. Aroma
alkohol tersebar di seluruh ruangan. Dan musik mendentum sangat kerasnya.
Begitu yang sempat kuingat di malam yang indah itu. Wanita itu hamil. Aku harus
menikahinya. Aku memang menginginkan itu. Aku ingin memilikinya utuh.
Kamu
tak usah menanya apakah aku masih menyimpan album pernikahan kami. Aku tak sudi
memperlihatkanmu, Naf. Mungkin kamu akan memburamkan warnanya dengan derai
penyesalanmu, tafsirku. Dan mungkin kau tambah terluka setelah
mengetahui kami dianugerahi seorang gadis mungil. Dia lebih cantik dari ibunya.
Sungguh dia sempurna.
***
Ada
sesuatu yang sangat kurahasiakan padamu. Ini tentang pernikahan kami yang harus
berakhir. Istriku tidak selingkuh. Juga tidak menuntut cerai. Dia meniggal
setelah menjadikan rumah sakit persinggahan terlama dalam hari-harinya.
Tepatnya hari-hari setelah pernikahan kami. Aku benar-benar kehilangan. Tapi
jangan harap aku menginginkanmu kembali. Tidak! Aku sudah memilki sesuatu yang
lebih menyita cintaku, putriku.
Sampai
sekarang aku masih menyukai dan memegahkan tanggal 14 Februari. Aku pernah
membelikan puteriku sebuah boneka. Boneka dolphin berwarna
biru muda, seperti yang pernah kamu empaskan di lantai rumahnmu. Dan aku
tercekat ketika ia melakukan hal yang sama denganmu kala itu. Aku
langsung saja menafsir kalau kamu telah menyugestikan penyesalanmu
yang beraroma dendam kepada puteriku. Tapi, mana mungkin. Kalian
tidak pernah bertemu sama sekali.
***
Sekarang
tanggal 14 Februari. Aku tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Dari
kejauhan kulihat kau menghampiriku. Masih sama seperti perpisahan yang silam.
Dengan baju kurung, dan jilbab longgar. Hanya satu yang beda, di tanganmu
tergenggam dua buah tangkai mawar berwarna merah. Aku sempat ragu kalau itu
kau, Naf. Tapi, senyum santunmu menegaskan. Itu kau, gadis yang pernah hilang
di mataku.
Jalanmu
lambat. Perlahan. Aku menyangka kamu akan menghampiriku. Tapi ternyata tidak.
Kau menaruh setangakai bunga itu di atas makam isteriku. Lalu? Aku mencoba
mengira lagi. Ada harap di dadaku kalau setangkai bunga lainnya untukku.
Ternyata benar itu untukku. Aku sebenarnya sedikit menyesal karena belum sempat
menitipkan putriku kepadamu. Kamu langsung saja pergi setelah menaruh bunga itu
di atas tanah merah yang membekapku. Aku juga lupa mengabarkan: setelah satahun
kematian istriku, aku harus pergi dengan cara yang sama. Kami mengidap AIDS,
semoga tidak untuk putriku.(*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar