Buat Haters...
Kau hanya baru membaca dua kata dan kau sudah salah paham.
Karena jumlah kalian tidak sedikit maka tidak mungkin aku menuliskan nama
kalian satu-satu di pembuka tulisanku. Tapi kali ini dan memang baru pertama
ini aku memilih memanggil kalian teman. Izinkanlah.
Teman, barangkali kamu tidak mengerti mengapa aku menulis
untukmu. Kau boleh menduga dan jangan lupa menuliskannya dalam tulisan
balasanmu, pun jika kau sudi menulis. Baik, akan kuberi tahu alasannya.
Pertama, kamu sempat membuatku sedih. Kedua, aku rasa kita harus kenal.
Teman, jika kamu benar tidak menyukaiku tidak perlu buang
waktu untuk membaca tulisan ini, karena pada akhirnya kamu akan menyesal
sendiri. Bisa jadi menyesal karena tulisan ini membuang waktu atau bisa saja
kamu tiba-tiba jatuh cinta. Untuk membuatmu jatuh cinta, aku percaya pada
pepatah. Katanya, kamu harus mengenalku. Namaku, Mukarrama. Singkat tapi
sepertinya susah ditulis dan dilisankan. Nama panggilanku banyak. Ini serius.
Tapi yang terdengar serius saja yang akan kuceritakan. Kalo kamu mendengar aku
dipanggil “Kalla” berarti kamu mendengar suara teman-teman yang cukup
mencintaiku---atau paling tidak cukup mengenalku. Kamu pernah dengar aku
dipanggil “Kay”? Jika pernah, berarti kamu mendengar suara 911. Nama panggilanku
yang lain kebanyakan mendeskripsikan seperti apa aku; kail, manusia roti,
manusia mars, cuek, sombong. Dan teman, kamu memanggilku apa? Mukarrama ya?
Ketahuilah, dari banyak nama-nama itu aku lebih suka dipanggil Mukarrama,
setidaknya setiap kau memanggilku, satu lagi doa untukku. Terimakasih untuk
itu.
Banyak orang menganggap, aku adalah anak yang cuek, supel,
sombong dan tertutup. Ada juga yang bilang aku membawa aura horror dikarenakan
ekspresi dan tatapan yang tidak biasa. Sebenarnya, aku hanya anak yang membenci
drama, lebih baik membego sendirian
di kamar daripada terlibat dalam drama queen. Lebih baik duduk berhadapan
laptop, ngeblog, cari tahu info
terbaru, nonton tv, atau baca buku daripada drama. Demi apa, aku tidak
tertarik.
Aku sudah mencoba membuatmu jatuh
cinta, berhasilkah? Aku percaya jawabannya tidak. Tapi maukah kau
memperkenalkan diri? Mungkin jika aku mencintaimu lebih dulu, kau bisa
mencintaiku kemudian. Tapi haters, eh maksudku teman mengapa kamu membenciku?
Aku sering kali mendapati matamu berbicara, “Nassa Kubire’ Ko”. Kamu tahu, aku
sedih. Sangat. Dan lama sekali. Bahkan sampai kau tengah membaca tulisan ini.
Tapi aku sedikit senang kau bisa membenci sebab ini berarti kamu manusia. Aku
pernah membaca tulisan seorang penulis terkenal dunia, yang sayangnya aku lupa
namanya. Katanya, they hate what they
don’t understand, and they are man. Ya benar sekali kita belum saling
memahami dan paham akhirnya salah---salah paham. Kamu bahkan tidak tahu mengapa
aku suka menulis, kamu tidak tahu mengapa nyaris setiap hari aku terlambat ke
sekolah, kamu tidak tahu mengapa aku tiba-tiba diam mengamati seseorang atau
yang paling sering mengapa aku bicara banyak tanpa tujuan yang jelas. Aku juga
tidak tahu mengapa kamu membenciku, tidak tahu kapan mulai membenci, tidak tahu
bencimu alami atau dibuat-buat oleh si pembenci.
Caramu membenci sangat variatif dan
inovatif. Adakalanya aku lelah dan merasa kalah, setelah itu kujadikan kau
puisi. Hanya itu. Tapi caraku jangan disangka sederhana. Jika kau sangka
begitu, kau benar. Caraku memang sederhana tapi bukankah puisi adalah hal yang
sederhana yang dirumitkan, dan penyair mampu menyederhanakan yang rumit. Kau bingung?
Ah, kau bingung dan belum jatuh cinta. Harus apa lagi, teman?
Baiklah, terakhir sebelum kusudahi
tulisanku aku ingin memberitahumu rahasia. Dengarlah. Pernah satu hari disaat
sedih dan merasa sendiri aku malah menemukanmu sebagai motivasi dan
inspirasiku. Sungguh. Motivasi tidak dicari, kau pun begitu yang datang sendiri
tiba-tiba. Kamu adalah inspirasiku karena aku sadar kamu miliki banyak
dibandingkan aku. Sudah lama, aku ingin marah pada inspirasi dan motivasiku tapi
aku mengingat kata Bukowski, katanya aku harus melihat dari sudut pandangmu
untuk memutuskan perlu marah atau justru memarahi diri sendiri, agar mengerti
apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika tidak mengerti, katanya lagi, aku lebih
baik bersikap pura-pura mengerti karena setidaknya akan mengurangi yang sakit
hati. Kadang aku tidak mengerti kata Bukowski, tapi pada akhirnya aku hanya
perlu berpura-pura mengerti kan?
Sudah ya teman, semoga maksudku
terbaca. Aku akan senang sekali jika kelak entah kapan mendapati suratmu dan didalamnya kau menyapaku teman. Sampaikan salamku kepada hatimu.
Dari, Saya
Orang yang
bisa jadi (salah) kamu benci.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar