Selasa, 24 Desember 2013

Tulisan Istimewa Untuk Yang Istimewa

Buat Haters...

Kau hanya baru membaca dua kata dan kau sudah salah paham. Karena jumlah kalian tidak sedikit maka tidak mungkin aku menuliskan nama kalian satu-satu di pembuka tulisanku. Tapi kali ini dan memang baru pertama ini aku memilih memanggil kalian teman. Izinkanlah.

Teman, barangkali kamu tidak mengerti mengapa aku menulis untukmu. Kau boleh menduga dan jangan lupa menuliskannya dalam tulisan balasanmu, pun jika kau sudi menulis. Baik, akan kuberi tahu alasannya. Pertama, kamu sempat membuatku sedih. Kedua, aku rasa kita harus kenal.

Teman, jika kamu benar tidak menyukaiku tidak perlu buang waktu untuk membaca tulisan ini, karena pada akhirnya kamu akan menyesal sendiri. Bisa jadi menyesal karena tulisan ini membuang waktu atau bisa saja kamu tiba-tiba jatuh cinta. Untuk membuatmu jatuh cinta, aku percaya pada pepatah. Katanya, kamu harus mengenalku. Namaku, Mukarrama. Singkat tapi sepertinya susah ditulis dan dilisankan. Nama panggilanku banyak. Ini serius. Tapi yang terdengar serius saja yang akan kuceritakan. Kalo kamu mendengar aku dipanggil “Kalla” berarti kamu mendengar suara teman-teman yang cukup mencintaiku---atau paling tidak cukup mengenalku. Kamu pernah dengar aku dipanggil “Kay”? Jika pernah, berarti kamu mendengar suara 911. Nama panggilanku yang lain kebanyakan mendeskripsikan seperti apa aku; kail, manusia roti, manusia mars, cuek, sombong. Dan teman, kamu memanggilku apa? Mukarrama ya? Ketahuilah, dari banyak nama-nama itu aku lebih suka dipanggil Mukarrama, setidaknya setiap kau memanggilku, satu lagi doa untukku. Terimakasih untuk itu.

Banyak orang menganggap, aku adalah anak yang cuek, supel, sombong dan tertutup. Ada juga yang bilang aku membawa aura horror dikarenakan ekspresi dan tatapan yang tidak biasa. Sebenarnya, aku hanya anak yang membenci drama, lebih baik membego sendirian di kamar daripada terlibat dalam drama queen. Lebih baik duduk berhadapan laptop, ngeblog, cari tahu info terbaru, nonton tv, atau baca buku daripada drama. Demi apa, aku tidak tertarik.

            Aku sudah mencoba membuatmu jatuh cinta, berhasilkah? Aku percaya jawabannya tidak. Tapi maukah kau memperkenalkan diri? Mungkin jika aku mencintaimu lebih dulu, kau bisa mencintaiku kemudian. Tapi haters, eh maksudku teman mengapa kamu membenciku? Aku sering kali mendapati matamu berbicara, “Nassa Kubire’ Ko”. Kamu tahu, aku sedih. Sangat. Dan lama sekali. Bahkan sampai kau tengah membaca tulisan ini. Tapi aku sedikit senang kau bisa membenci sebab ini berarti kamu manusia. Aku pernah membaca tulisan seorang penulis terkenal dunia, yang sayangnya aku lupa namanya. Katanya, they hate what they don’t understand, and they are man. Ya benar sekali kita belum saling memahami dan paham akhirnya salah---salah paham. Kamu bahkan tidak tahu mengapa aku suka menulis, kamu tidak tahu mengapa nyaris setiap hari aku terlambat ke sekolah, kamu tidak tahu mengapa aku tiba-tiba diam mengamati seseorang atau yang paling sering mengapa aku bicara banyak tanpa tujuan yang jelas. Aku juga tidak tahu mengapa kamu membenciku, tidak tahu kapan mulai membenci, tidak tahu bencimu alami atau dibuat-buat oleh si pembenci.
            Caramu membenci sangat variatif dan inovatif. Adakalanya aku lelah dan merasa kalah, setelah itu kujadikan kau puisi. Hanya itu. Tapi caraku jangan disangka sederhana. Jika kau sangka begitu, kau benar. Caraku memang sederhana tapi bukankah puisi adalah hal yang sederhana yang dirumitkan, dan penyair mampu menyederhanakan yang rumit. Kau bingung? Ah, kau bingung dan belum jatuh cinta. Harus apa lagi, teman?

            Baiklah, terakhir sebelum kusudahi tulisanku aku ingin memberitahumu rahasia. Dengarlah. Pernah satu hari disaat sedih dan merasa sendiri aku malah menemukanmu sebagai motivasi dan inspirasiku. Sungguh. Motivasi tidak dicari, kau pun begitu yang datang sendiri tiba-tiba. Kamu adalah inspirasiku karena aku sadar kamu miliki banyak dibandingkan aku. Sudah lama, aku ingin marah pada inspirasi dan motivasiku tapi aku mengingat kata Bukowski, katanya aku harus melihat dari sudut pandangmu untuk memutuskan perlu marah atau justru memarahi diri sendiri, agar mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan jika tidak mengerti, katanya lagi, aku lebih baik bersikap pura-pura mengerti karena setidaknya akan mengurangi yang sakit hati. Kadang aku tidak mengerti kata Bukowski, tapi pada akhirnya aku hanya perlu berpura-pura mengerti kan?

            Sudah ya teman, semoga maksudku terbaca. Aku akan senang sekali jika kelak entah kapan mendapati suratmu dan didalamnya kau menyapaku teman. Sampaikan salamku kepada hatimu.

Dari, Saya
Orang yang bisa jadi (salah) kamu benci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar