Selasa, 15 Oktober 2013

Sedikit tentang Mukarrama

Namaku Mukarrama, seorang remaja 15 tahun yang menyenangi berpikir di luar kebiasaan remaja pada umumnya. Awalnya benar aku menyenangi tapi akhir-akhir ini aku mulai mendapati rasa yang belum bisa ku namai, antara takut, abnormal, over, sakartis, tajam, krimial dan liar. Jadi istilah apa yang paling tepat mewakili rasa itu? Beri tahu aku jika sudah merasa menemukannya.
Aku tidak tahu betul sejak kapan hobby berimajinasiku bermula, akan tetapi bisa ku pastikan hobby ini memasuki level waspada semenjak aku memiliki ibu untuk kali kedua. Dan aku tak mau berbohong bahwa sebenarnya kebiasaan ini mulai muncul saat masih di sekolah dasar, yang seharusnya bisa musnah jika cukup sekali aku mempunyai ibu. Lalu apa sekarang? Aku merasa berbeda, bermain bersama paranoid kemudian tiba-tiba menangis sekaligus tertawa dikarenakan imajinasi. Aku sadar jika semua yang mengerikan ini berlanjut tidak bisa ku bayangkan akan seperti apa aku kelak. Sudah lama aku menyembunyikan dan menutup-nutupi cerita sedih ini, aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama sebab setiap detiknya aku kian merasa seperti bukan diriku. Jika yang dikepalaku akhirnya terbaca oleh teman-temanku, saat itulah aku harus benar-benar hidup dalam imajinasi atau paling tidak wajib berbesar hati dikatakan ‘sakit jiwa’.
Mungkin aku bisa menceritakan bagaimana imajinasi brutal ini muncul...
Semula...
Tetap saja kondisi saat itu tidak bisa dikatakan baik-baik saja, genting dan sejenisnya. Seorang remaja tanggung mau tidak mau menjalani hidup tanpa kepastian bersama seorang bapak dengan 3 saudara yang saling terpisah. Sepi hingga sunyi menjadi akrab dengannya. Tak pernah sekali ia mengira akan memainkan peran dalam cerita paling sedih lebih sedih dari drama ala korea, lebih menegangkan dari sederet film pemicu ketegangan box office. Aku di masa itu, teramat sangat pendiam, tertutup namun setidak-tidaknya ia tahu cara tersenyum tulus. Sedangkan hari ini? Aku menjelma seperti gadis mati rasa, senin hingga sabtu tidak banyak berbeda, januari sampai desember tidak banyak yang berubah, semua datar saja. Aku seperti lupa cara tersenyum, menjadi pribadi kasar dan tidak mau mendengar. Katanya saat lidah tak lagi mampu memperjelas mata setidaknya bisa berbicara, sayangnya mataku seperti halnya bisu, benar-benar tanpa ekspresi. Anehnya saat di sekolah atau lebih tepatnya di hadapan teman-temanku, aku bisa tampil 180 derajat berbeda dari diriku. Dibandingkan diriku yang dahulu pendiam sekarang aku lebih banyak bicara, cerewet. Aneh bukan orang yang sebelumnya pendiam berubah total menjadi seorang yang cerewet? Hm dan mungkin cerewet ini membuat semua terlihat samar bagi mereka. Sejak saat semua ini terjadi, akhirnya inilah aku mahluk tuna rasa seperti amnesia untuk beberapa rasa terkecuali untuk rasa yang mengerikan.

Satu yang bisa ku pastikan saat ini mungkin imajinasi itu telah berkuasa atas diriku tapi aku masihlah manusia waras. Sayangnya aku tidak tahu siapa yang harus aku temui untuk menyudahi apa yang tidak sengaja ku mulai maka pada akhirnya aku membuat pilihan sendiri saat dunia memberikan pilihan yang membimbangkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar