Namaku Mukarrama, seorang remaja
15 tahun yang menyenangi berpikir di luar kebiasaan remaja pada umumnya. Awalnya
benar aku menyenangi tapi akhir-akhir ini aku mulai mendapati rasa yang belum
bisa ku namai, antara takut, abnormal, over, sakartis, tajam, krimial dan liar.
Jadi istilah apa yang paling tepat mewakili rasa itu? Beri tahu aku jika sudah
merasa menemukannya.
Aku tidak tahu betul sejak kapan
hobby berimajinasiku bermula, akan tetapi bisa ku pastikan hobby ini memasuki
level waspada semenjak aku memiliki ibu untuk kali kedua. Dan aku tak mau
berbohong bahwa sebenarnya kebiasaan ini mulai muncul saat masih di sekolah
dasar, yang seharusnya bisa musnah jika cukup sekali aku mempunyai ibu. Lalu
apa sekarang? Aku merasa berbeda, bermain bersama paranoid kemudian tiba-tiba
menangis sekaligus tertawa dikarenakan imajinasi. Aku sadar jika semua yang
mengerikan ini berlanjut tidak bisa ku bayangkan akan seperti apa aku kelak.
Sudah lama aku menyembunyikan dan menutup-nutupi cerita sedih ini, aku tidak
yakin bisa bertahan lebih lama sebab setiap detiknya aku kian merasa seperti
bukan diriku. Jika yang dikepalaku akhirnya terbaca oleh teman-temanku, saat
itulah aku harus benar-benar hidup dalam imajinasi atau paling tidak wajib berbesar
hati dikatakan ‘sakit jiwa’.
Mungkin aku bisa menceritakan
bagaimana imajinasi brutal ini muncul...
Semula...
Tetap saja kondisi saat itu tidak
bisa dikatakan baik-baik saja, genting dan sejenisnya. Seorang remaja tanggung
mau tidak mau menjalani hidup tanpa kepastian bersama seorang bapak dengan 3
saudara yang saling terpisah. Sepi hingga sunyi menjadi akrab dengannya. Tak
pernah sekali ia mengira akan memainkan peran dalam cerita paling sedih lebih
sedih dari drama ala korea, lebih menegangkan dari sederet film pemicu ketegangan
box office. Aku di masa itu, teramat sangat pendiam, tertutup namun
setidak-tidaknya ia tahu cara tersenyum tulus. Sedangkan hari ini? Aku menjelma
seperti gadis mati rasa, senin hingga sabtu tidak banyak berbeda, januari
sampai desember tidak banyak yang berubah, semua datar saja. Aku seperti lupa
cara tersenyum, menjadi pribadi kasar dan tidak mau mendengar. Katanya saat
lidah tak lagi mampu memperjelas mata setidaknya bisa berbicara, sayangnya
mataku seperti halnya bisu, benar-benar tanpa ekspresi. Anehnya saat di sekolah
atau lebih tepatnya di hadapan teman-temanku, aku bisa tampil 180 derajat berbeda
dari diriku. Dibandingkan diriku yang dahulu pendiam sekarang aku lebih banyak
bicara, cerewet. Aneh bukan orang yang sebelumnya pendiam berubah total menjadi
seorang yang cerewet? Hm dan mungkin cerewet ini membuat semua terlihat samar
bagi mereka. Sejak saat semua ini terjadi, akhirnya inilah aku mahluk tuna rasa
seperti amnesia untuk beberapa rasa terkecuali untuk rasa yang mengerikan.
Satu yang bisa ku pastikan saat
ini mungkin imajinasi itu telah berkuasa atas diriku tapi aku masihlah manusia
waras. Sayangnya aku tidak tahu siapa yang harus aku temui untuk menyudahi apa
yang tidak sengaja ku mulai maka pada akhirnya aku membuat pilihan sendiri saat
dunia memberikan pilihan yang membimbangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar