Selasa, 15 Oktober 2013

911 vs OSIS

Gimana judulnya? Ekstrim nggak? Hahaha seekstrim saya yang lagi nggak ada kerjaan, eh lebih tepatnya malas dengan kerjaan yang ada sih.
Oke, karena kamu sudah memutuskan membaca tulisan ini, maka kamu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi di bagian pembuka, isi dan penutup. Ingat yaaa.. ini blog gue, bukan tempat nyolot apalagi tempat pembuangan omongan sampah. Heheh oke deh
Saya tau kalian semua udah pada biasa kan denger OSIS? Secara resmi OSIS adalah tangan kanan sekolah, OSIS mengontrol semua organisasi secara umum, pokoknya peran OSIS dalam suksesnya nama sekolah itu memiliki andil besar. Jadi pendek kata, OSIS adalah organisasi yang paling bergengsi di sekolah. Nah tadi kan OSIS secara resmi, kalo nggak resmi OSIS itu hanya organisasi buat numpang tenar pake jas OSIS. Truth but hurt.
Lalu apa itu 911?  Mau tahu banget atau mau banget tahu? Yang ada cuma tahu jangan bawa-bawa tempe deh! Jadi 911 itu geng iseng-isengan yang dibentuk tanggal.... saya juga nggak ingat kapan :D, tapi secara resmi dibentuk pada tanggal 4 September di aula kecil Smadama. 911 ini beranggotakan Nabilah Haruna, Reski Auliah, Eka Ariyani, Dian Fitrah Ardita, Nadila Saphira, dan saya sendiri. Setiap agen memiliki panggilan keren nan unyu yang didepannya ada kata ‘Agen’, heheh biar kayak di film box office itu. 911 ini umurnya masih seumur jagung tapi nyangka nggak kalau sekarang 911 dilirik oleh organisasi resmi bergengsi. Yup, benar! Organisasi itu memang OSIS.
Baru-baru ini, setelah mid para agen dibuat gerah dengan orang-orang yang mencari kami, menyebut nama kami, hmm entah apa yang terjadi. Kami sebetulnya sadar akan kepopuleran para agen jadi udah terbiasa sih kalau jadi pusat perhatian, tapi yang ini beda. Kenapa beda? Karena ternyata beberapa waktu yang lalu OSIS mengadakan sidang paripurna yang menjadikan kami sebagai topik, hehehe maaf lebay tapi masih lebay mereka kan?
Menurut OSIS geng iseng-isengan yang dipanggil 911 adalah sebuah ‘organisasi’ ‘anti OSIS’. Yang benar saja? Mereka secara lancang menyebut kami tergabung dalam organisasi bernama 911 yang pada kenyataannya tidak bisa disebut organisasi. Yang makin aneh, mereka semua kompak berpendapat bahwa kami menentang OSIS. Anehnya lagi, cerita ini seperti telah menginfeksi sebagian banyak warga Smadama, hingga di kantin pun kami menemukan banyak mata memandang liar yang bermuara dimana para agen berada. Oh shit, ada apa dengan OSIS?
Hari ke hari terus berganti, hari ke hari juga kami makin tenar di kalangan OSIS, atau bukan OSIS. Hingga akhirnya satu-satunya jalan keluar adalah kedua pihak yang tidak merasa salah ini harus dipertemukan segera mungkin. Namun pertemuan itu semakin meragukan sebab hingga jumat pagi kejelasan apakah pertemuan antar osis dan 991 masih simpang siur. 911 oleh Agen Nabilah pun sepertinya sudah gerah dan dengan percaya diri berkata pada salah satu sosis, “Apa ji? Kenapa nda jadi?” si sosis pun tampaknya semakin meluap-luap terus disudutkan dan akhirnya dalam waktu yang tidak lama ia sudah tak terlihat. Kemana ia akan pergi bukan pertanyaan yang menarik tapi apa yang akan dibawa kembali nanti adalah sebuah pertanyaan yang menunggu jawaban, benar-benar haus akan jawaban.
Hingga lewat pukul sembilan pagi, seperti biasa para agen mendapatkan hadiah tatapan sinis dari orang-orang yang sungguh memanfaatkan status seniornya. Tapi kali ini ada yang baru, para agen mendapat kabar bahwa sabtu, setelah karnaval peringatan adha mubarak nanti akan diadakan pertemuan antara OSIS dan 911. Agen aul yang jumat malam akan berangkat ke Makassar sadar akan melewatkan moment penting oleh karenanya seorang perantara dikirim untuk rencana memajukan jadwal meeting dengan OSIS tapi lagi-lagi kami mendengar kabar buruk. OSIS berkicau bahwa pertemuan setelah karnaval itu bukan pada hari H soalnya ditakutkan persiapan karnaval akan berantakan. Tapi sayangnya para agen mendengar pernyataan berbeda oleh perantara, “narosa-rosai nanti IPA 5 pawai”. What the fuck is that? Ternyata perantara ini membuat skenario murahan dengan tujuan yang sulit diterima nalar. Alhasil 911 sempat menganggap serius perkataan itu dan untungnya perantara tadi segera meralat perkataannya (entah itu untung atau sial). Suasana genting telah melibatkan banyak orang gara-gara perantara konyol tersebut. Tapi sudahlah kami bukan orang yang mau menghabiskan waktu untuk orang-orang yang tidak penting.

Dan akhirnya, pawai kini dalam hitungan jam dan pertemuan itu masih berstatus entah. Kami para agen tentunya sudah siap mental, fisik dan otak untuk pertemuan itu. Kami bukan bermain tak tik dan menyiapkan beragam argumen karena kami akan bicara apa adanya. Baiklah, episode selanjutnya akan saya share lagi yaaa.... tungguin loh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar