Gimana judulnya? Ekstrim nggak?
Hahaha seekstrim saya yang lagi nggak ada kerjaan, eh lebih tepatnya malas
dengan kerjaan yang ada sih.
Oke, karena kamu sudah memutuskan
membaca tulisan ini, maka kamu harus siap dengan segala kemungkinan yang
terjadi di bagian pembuka, isi dan penutup. Ingat yaaa.. ini blog gue, bukan
tempat nyolot apalagi tempat pembuangan omongan sampah. Heheh oke deh
Saya tau kalian semua udah pada
biasa kan denger OSIS? Secara resmi OSIS adalah tangan kanan sekolah, OSIS
mengontrol semua organisasi secara umum, pokoknya peran OSIS dalam suksesnya
nama sekolah itu memiliki andil besar. Jadi pendek kata, OSIS adalah organisasi
yang paling bergengsi di sekolah. Nah tadi kan OSIS secara resmi, kalo nggak
resmi OSIS itu hanya organisasi buat numpang tenar pake jas OSIS. Truth but
hurt.
Lalu apa itu 911? Mau tahu banget atau mau banget tahu? Yang
ada cuma tahu jangan bawa-bawa tempe deh! Jadi 911 itu geng iseng-isengan yang
dibentuk tanggal.... saya juga nggak ingat kapan :D, tapi secara resmi dibentuk
pada tanggal 4 September di aula kecil Smadama. 911 ini beranggotakan Nabilah
Haruna, Reski Auliah, Eka Ariyani, Dian Fitrah Ardita, Nadila Saphira, dan saya
sendiri. Setiap agen memiliki panggilan keren nan unyu yang didepannya ada kata
‘Agen’, heheh biar kayak di film box office itu. 911 ini umurnya masih seumur
jagung tapi nyangka nggak kalau sekarang 911 dilirik oleh organisasi resmi
bergengsi. Yup, benar! Organisasi itu memang OSIS.
Baru-baru ini, setelah mid para
agen dibuat gerah dengan orang-orang yang mencari kami, menyebut nama kami, hmm
entah apa yang terjadi. Kami sebetulnya sadar akan kepopuleran para agen jadi
udah terbiasa sih kalau jadi pusat perhatian, tapi yang ini beda. Kenapa beda?
Karena ternyata beberapa waktu yang lalu OSIS mengadakan sidang paripurna yang
menjadikan kami sebagai topik, hehehe maaf lebay tapi masih lebay mereka kan?
Menurut OSIS geng iseng-isengan
yang dipanggil 911 adalah sebuah ‘organisasi’
‘anti OSIS’. Yang benar saja? Mereka secara lancang menyebut kami tergabung
dalam organisasi bernama 911 yang pada kenyataannya tidak bisa disebut
organisasi. Yang makin aneh, mereka semua kompak berpendapat bahwa kami
menentang OSIS. Anehnya lagi, cerita ini seperti telah menginfeksi sebagian
banyak warga Smadama, hingga di kantin pun kami menemukan banyak mata memandang
liar yang bermuara dimana para agen berada. Oh shit, ada apa dengan OSIS?
Hari ke hari terus berganti, hari
ke hari juga kami makin tenar di kalangan OSIS, atau bukan OSIS. Hingga
akhirnya satu-satunya jalan keluar adalah kedua pihak yang tidak merasa salah
ini harus dipertemukan segera mungkin. Namun pertemuan itu semakin meragukan
sebab hingga jumat pagi kejelasan apakah pertemuan antar osis dan 991 masih
simpang siur. 911 oleh Agen Nabilah pun sepertinya sudah gerah dan dengan
percaya diri berkata pada salah satu sosis, “Apa ji? Kenapa nda jadi?” si sosis
pun tampaknya semakin meluap-luap terus disudutkan dan akhirnya dalam waktu
yang tidak lama ia sudah tak terlihat. Kemana ia akan pergi bukan pertanyaan
yang menarik tapi apa yang akan dibawa kembali nanti adalah sebuah pertanyaan
yang menunggu jawaban, benar-benar haus akan jawaban.
Hingga lewat pukul sembilan pagi,
seperti biasa para agen mendapatkan hadiah tatapan sinis dari orang-orang yang
sungguh memanfaatkan status seniornya. Tapi kali ini ada yang baru, para agen
mendapat kabar bahwa sabtu, setelah karnaval peringatan adha mubarak nanti akan
diadakan pertemuan antara OSIS dan 911. Agen aul yang jumat malam akan
berangkat ke Makassar sadar akan melewatkan moment penting oleh karenanya
seorang perantara dikirim untuk rencana memajukan jadwal meeting dengan OSIS
tapi lagi-lagi kami mendengar kabar buruk. OSIS berkicau bahwa pertemuan
setelah karnaval itu bukan pada hari H soalnya ditakutkan persiapan karnaval
akan berantakan. Tapi sayangnya para agen mendengar pernyataan berbeda oleh
perantara, “narosa-rosai nanti IPA 5 pawai”. What the fuck is that? Ternyata
perantara ini membuat skenario murahan dengan tujuan yang sulit diterima nalar.
Alhasil 911 sempat menganggap serius perkataan itu dan untungnya perantara tadi
segera meralat perkataannya (entah itu untung atau sial). Suasana genting telah
melibatkan banyak orang gara-gara perantara konyol tersebut. Tapi sudahlah kami
bukan orang yang mau menghabiskan waktu untuk orang-orang yang tidak penting.
Dan akhirnya, pawai kini dalam
hitungan jam dan pertemuan itu masih berstatus entah. Kami para agen tentunya
sudah siap mental, fisik dan otak untuk pertemuan itu. Kami bukan bermain tak
tik dan menyiapkan beragam argumen karena kami akan bicara apa adanya. Baiklah,
episode selanjutnya akan saya share lagi yaaa.... tungguin loh!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar